WAKE UP FOR 1/3 NIGHT

Wake Up for 1/3 Night

Written by: Tri Hastuti/ Medical Student of Unimus/ 2013

 

 

Di dalam Islam, bangun di sepertiga malam sangatlah dianjurkan, karena di malam inilah manusia dapat melaksanakan ibadah sholat Tahajjud. Sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an

 

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

[Al Israa’/17: 79]

 

“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.”

[Al Insan/ 76: 25-26]

 

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”

[Adz-Dzaariyaat/51: 17-18]

 

Di dalam tubuh manusia, tepatnya di enchepalon (otak), terdapat bagian yang bernama Corpus Amygdala. Bagian ini berada di Ganglia Basalis, yang letaknya di dalam sistem Limbic (sistem sebagai pusat alam bawah sadar). Corpus Amygdala berfungsi sebagai pengendali atau penanggung jawab dalam sistem saraf emosi. Sehingga ketika seseorang sedang senang, sedih, galau, patah hati, bahkan kasmaran, yang menjadi pusat regulasi adalah si Corpus Amydala ini

 

Mengapa si Corpus Amygdala bisa menjadi koordinator emosi mannusia? Baca mekanismenya di bawah ini ya

 

Corpus Amygdala akan memproduksi suatu hormon, yaitu hormon melatonin, yang nantinya hormon tersebut akan keluar melalui saluran dan menuju pembuluh darah lalu mengeluarkan produk yang terwujudkan sebagai emosi. Kadar hormon melatonin ini akan meninggi, saat sepertiga malam terutama dalam keadaan remang-remang atau bahkan gelap gulita. Sehingga orang yang bangun di sepertiga malam lalu melaksanakan sholat Tahajjud dengan kondisi pencahayaan yang remang-remang atau bahkan gelap gulita, ia akan mendapatkan ketenangan, kekhusyukan, sehingga terjadi komunikasi antara dirinya dengan Allah.

 

Hormon melatonin memiliki sifat antioksidan, yang berarti hormon ini mampu mencegah kematian sel secara dini, sehingga membuat seseorang menjadi awet muda. Hal ini dibuktikan oleh orang-orang yang terbiasa sholat tahajjud, dimana wajah mereka tampak bersinar, karena adanya hormon melatonin yang bersifat antioksidan tersebut.

 

Bagi wanita, hormon melatonin ini akan mengoordinasi hormon estrogen supaya terkendali dalam jumlah kecil. Estrogen merupakan salah satu hormon seksual yang dihasilkan oleh ovarium wanita yang berperan dalam perkembangan seks wanita. Dengan kondisi seperti ini, wanita akan terhindar dari kanker payudara, yang dominan disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang berlebihan.

 

Dalam hal metabolisme (proses kimiawi berupa pertukaran zat dalam tubuh), hormon melatonin berfungsi untuk mengatur kadar kolesterol dalam darah, sehingga kemungkinan terjadinya hipertensi (tekanan darah tinggi) yang biasanya disebabkan karena kolesterol berlebih, bisa lebih kecil. Dan hormon melatonin mampu menangkal radikal bebas serta menjaga metabolisme tubuh yang lain.

 

Bagi pasangan suami istri, terutama sepasang kaum adam dan hawa yang baru saja menghalalkan hubungannya, yang mungkin saja malam ini akan melakukan first night mereka, aktivitas bangun di sepertiga malam juga penting untuk mereka. Perlu diketahui bahwa hormon melatonin berperan sebagai pengendali aktivitas yang bersifat seksual. Sehingga, bagi mereka yang suka sholat malam, libido seksualnya tidak akan hilang. Perihal libido pada kaum adam, berikut ini terdapat beberapa ciri bahwa pria memiliki libido seksual yang tinggi, antara lain: badan tidak atletis, yang ditunjukkan dengan semakin kecil tendo achilles (tumit) yang dimiliki seorang pria, maka semakin tinggi libido seksualnya; punggung agak melengkung seperti punggung rajungan (sejenis kepiting), sehingga bila punggung seorang pria datar, maka libido seksualnya rendah; musculus gluteus maximus (pantat) semakin kerempeng, berarti libido seksualnya semakin tinggi.

 

Jadi, alangkah baiknya apabila kita membuat kebiasaan baru untuk diri kita, supaya kita tidur di awal malam dan bangun di sepertiga malam, lalu melakukan sholat malam. Dan lebih baik lagi, setelah kita sholat malam, kita melanjutkan belajar.. Jadi lebih mantap ‘kan..?

 

 

Referensi:

Al Qur’an

Al Hadits

Affandi  Ichsan,   dr.   Materi   Pembekalan   “Kedokteran  Islam   Sholat   Tahajjud”   Blok   3. Semarang: FK Unimus; 2014.

Nanik Marfuati, dr. Materi Pembekalan “Biokimia Hormon Reproduksi” Blok 5. Semarang: FK Unimus; 2014.

W.A. Newman Dorland. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.

SAVE THE WORLD

SAVE THE WORLD

 

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

-Al Maidah/5:32-.

 

Kalian tahu butterfly effect? Butterfly effect adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa suatu hal yang kecil bisa menyebabkan hal yang sangat besar dan bahkan penting. Mari kita lihat contoh dari kasus butterfly effect.

 

Pada tahun 1889, seorang anak dilahirkan di sebuah daerah Eropa yaitu Austria. Memasuki usia 17 tahun, anak ini memiliki ambisi untuk menjadi seorang seniman dan dia mencoba untuk masuk sebuah akademi seni di Viena. Sayangnya dia ditolak sebanyak dua kali pada tahun 1907 dan 1908 serta dia diminta untuk masuk ke sekolah arsitek saja daripada sekolah seni. Akhirnya anak ini pun berpindah haluan menjadi seorang tokoh politik, dan sekarang dia adalah tokoh politik paling fenomenal yang mungkin pernah kita kenal. Dia adalah Adolf Hitler.

 

Bayangkan apa yang terjadi apabila pada saat itu Adolf Hitler muda diterima di sebuah akademi seni. Tentu saja jutaan orang akan terselamatkan dari genosida..

 

atau contoh lain

 

Pada tahun 1928, seorang Alexander Flemming tidak sengaja menumpahkan sebuah tabung yang berisi penicillin notatum ke sebuah kelompok bakteri Staphylococcus aureus. Dari peristiwa itu, saat ini kita bisa mendapat pengobatan antibiotik yang telah menyelamatkan banyak nyawa di dunia. Bayangkan apabila tabung tersebut tidak ditumpahkan oleh Alexander Flemming. Mungkin akan banyak jutaan orang yang meninggal karena tidak mampu terobati dari infeksi bakteri..

 

atau

 

Apa yang akan terjadi apabila Abdullah an-Nahham al-‘Adawi tidak memberi tahu Sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar Ibn Khattab RA, bahwa Fatimah adiknya telah memeluk agama Islam? Mungkin sejarah Islam akan tertulis tanpa nama Umar sebagai penolongnya..

 

atau

 

Apa yang akan terjadi apabila Sultan Muhammad Al-Fatih melewatkan satu tahajud dalam hidupnya? Mungkin legenda penaklukan konstatinopel tidak akan terdengar hari ini..

 

Menurut konsep butterfly effect, bahkan kepakan sayap kupu-kupu bisa menyebabkan tornado di daerah lain. Sebuah tindakan yang mungkin kecil, ternyata bisa berdampak besar. Itulah apa yang coba di sampaikan oleh ayat ini.

 

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

-Al Maidah 32-.

 

Bagi Islam, perbuatan kecil tidak bisa diremehkan. Perbuatan kecil bisa menyebabkan perbuatan lain yang lebih besar. Dosa kecil yang sering kita remehkan bisa merambat menjadi dosa besar. Biasa mencontek dan berbohong saat kecil bisa menghasilkan koruptor di masa depan. Berawal dari sms-an bisa menjadi berduaan hingga akhirnya perzinaan..

 

Begitu juga dengan perbuatan baik. Baik adalah baik. Kecil dan besar tidak menjadikan baik itu menjadi buruk. Misalnya membantu saudara kita, muslim Rohingya di Myanmar, kita tidak perlu terjun langsung atau sampai intervensi ke Perdana Menteri Myanmar. Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan seperti berdoa, kampanye kepedulian, atau menyumbangkan sedikit rezeki. Perbuatan kecil seperti itu akan menghasilkan efek yang besar terhadap peristiwa di Rakhine state Myanmar.

 

Dari sini harusnya kita menyadari bahwa setiap hal besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar, mulailah dari hal kecil yang nantinya akan menjadi besar. Tidak perlu malu untuk melakukan perbuatan kecil yang baik. Dan jangan pernah berani untuk berbuat dosa hanya karena itu dosa kecil. Perbuatan kecil yang baik bisa berkembang menjadi perbuatan besar yang baik dan dari dosa kecil bisa menyebabkan dosa yang besar. Karena setiap perbuatan baik yang kamu lakukan, mungkin bisa menyelamatkan dunia.

 

-Stay Istiqomah, do great things, and Fastabiqul Khairat-

TRY OUT UKMPPD 2017

Assalamualaikum, ikhwah 🙂

FULDFK punya sesuatu yang baru nih?

Tenang, bukan
“Kulit manggis kini ada ekstraknya” kok

Penasaran??

Siapkan laptop dulu ya ikhwah,

Lalu?

Buka link dibawah ini :
TRY OUT UKMPPD

Bukan berita patah hati karena hamis sama yaya menikah kan?

Yaps, mulai sekarang, ikhwah sekalian bisa mengerjakan soal TO UKMPPD via flash player

Passwordnya “medicalzone” ya ikhwah

Selamatt mencoba 🙂

 

FUTUR

Kali ini kita akan bahas “Futur”.. bukan futur doctor.. apalagi futur husband.. apalagi futur kata yang manis (tutur !!)

Futur secara bahasa adalah “rasa malas” atau laziness. Lebih spesifiknya dalam lisanul arab, futur adalah rasa malas yang muncul setelah kamu lagi rajin-rajinnya.

“Diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukan dengan usaha keras”

Lah ?? kok bisa males setelah rajin ??

Gini nih contohnya.

Pernah nggak kalian ketika masa SMA, hasil nilai ujian kalian mirip kaya harga promo akhir tahun sendal “serba 50an” dan pasti setelah dapet nilai ujian segitu, kalian langsung on fire, off dari socmed, bikin janji sama diri sendiri buat belajar, anti main keluar, daftar les-lesan, ikut komunitas batu akik, konsultasi syariah ke dukun.. pokoknya semua kalian lakukan karena pengen nilai yang bagus dan mumpung lagi semangat-semangatnya buat belajar.

5 hari kemudian, kalian mulai terjebak di lingkaran drakor lagi, mulai bosen belajar, dan orientasi memperbaiki nilai berubah menjadi kepasrahan menerima keadaan dan akhirnya males-malesan belajar lagi

Pernah seperti ini ??

Itulah yang dinamakan Futur. Contoh kasus edisi masa studi, dimana pada awalnya kalian semangat belajar.. eh lama-lama bosen belajar.. pengen main dan pasrah..

Futur ini bisa terjadi pada banyak aspek kehidupan, mulai dari cinta, sosial, keluarga, pekerjaan/pendidikan dan Agama. Sekarang, mana yang lebih berbahaya ?

Apakah Futur dalam cinta ? Oke, mungkin kalau nanti kita udah punya istri, atau suami di tengah-tengah alur pernikahan kita bakal ngerasa bosen sama pasangan kita.. soalnya yang dulunya mirip Agnez Mo sekarang mirip kaya Jaiko adiknya Giant. Tapi ya karena cinta itu menerima apa adanya, biasanya 2-3 hari futur cintanya ilang.

Apakah Futur dalam sosial ? Diantara kita pasti ada yang punya satu temen yang nyebelin banget kaya sales alat rumah tangga dan kadang kita bosen banget main sama mereka, tapi manusia adalah mahluk sosial, 2-3 hari nggak main, kesepian, nanti juga futur sosialnya hilang..

Apakah Futur dalam keluarga ? Libur telah tiba, sesampainya dirumah, malah disuruh kerja romusha. Disuruh ini, disuruh itu.. awalnya semangat pengen ketemu orang tua.. eh lama-lama males pengen balik aja.. tapi yang namanya keluarga pasti benci namun cinta.. mau disuruh romusha atau kerja paksa.. kalau udah kangen.. ya gapapa.. 2-3 hari udah nggak ada yang namanya futur keluarga.

Apakah Futur dalam pekerjaan dan pendidikan ? Siapa sih yang nggak males kerja atau sekolah ? Tapi cukup dengan kata bijak dari Nelson candella.. “elu kalau nggak sekolah pinter atau nggak kerja, bakal susah cari jodoh” sepertinya sudah cukup buat membangkitkan semangat dari kefuturan.

Apakah futur dalam beragama ? Awal bulan sholat 5 waktu dimasjid, rajin ikut kajian, ngaji one day one juz.. Tengah bulan.. Muncul banyak cobaan, dijauhi temen karena dianggap ekstrimis, dinasihati keluarga karena resiko gabung ISIS, dan dipandang aneh karena sering pake gamis.. masuk akhir bulan.. sholatnya 5 waktu di jamak subuh, rajin ikut kajian multi level marketing, ngajinya one day one ayat, cuma baca bismillah aja.. di akhirat.. duar di shotgun sama malaikat..

Mana yang paling berbahaya ?? Tentu futur dalam beragama..

Semua futur jelas berbahaya, futur dalam cinta bisa berujung perceraian, futur dalam pertemanan bisa berujung permusuhan, futur dalam keluarga bisa berujung pertikaian, dan futur dalam pekerjaan/pendidikan bisa berujung kegagalan.. tapi disini kita bakal bahas futur dalam agama.. kenapa ??.. karena ini website fuldfk -_- nggak sih, karena memang futur dalam agama adalah akar permasalahan futur-futur yang lainya.. termasuk futur husband nggak muncul karena kita futur dalam beragama..

Penyakit futur dalam beragama banyak terjadi kepada orang yang belajar agama karena memang ciri-ciri orang yang baru belajar adalah semangat tapi masih labil, di awal-awal memang semangat, tapi penyakit setiap manusia yang belajar adalah rasa bosan dan dari rasa bosan tersebut munculah futur yang mengakibatkan orang pada akhirnya menjadi malas belajar atau berhenti belajar sama sekali.

Kenapa kita futur ?

  1. Hilangnya Alasan

Kita kerja karena biar dapet duit, maka ketika nggak dapet duit, apakah kita masih kerja ?? tentu kita bakalan males dan akhirnya berhenti kerja. Sama kaya belajar agama dan belajar yang lainya. Kita semua pasti punya alasan kenapa melakukan sesuatu dan kalau alasan itu hilang maka kita malas dan bahkan berhenti melakukan sesuatu itu.

Contohnya kamu makan karena kamu laper. Jadi kalau udah nggak laper, kamu pasti berhenti makan. Nah, futur ini terjadi karena kadang kita kehilangan alasan untuk melakukan sesuatu.

  1. Godaan

Besok ada ujian, dan saat itu kamu sedang belajar.. Tiba-tiba dari jarak 2 windu terdengar suara HP berbunyi..CETING !!.. Ternyata ada notifikasi babang gojek kesayanganmu mau nganterin makanan.. Kamu buka deh tu HP.. udah selesai ngurusin gojek, mau lanjutin belajar tiba tiba dari kanan muncul suara setan “eits.. nggak mau cek IG dulu ?? sekalian loh cyin.. mumpung buka hape.. keliatannya si doi update sesuatu baru nih”.. dari kiri muncul suara malaikat “hentikan inayah, besok ujian.. ayo belajar”.. dan akhirnya kamu buka IG.. niatnya mau cek postingan si doi aja.. eh keterusan sampe ngecek akun FBI.. dan akhirnya kamu malas buat belajar..

Futur bisa terjadi ketika banyak gangguan disekitar kamu.. pas mau ngaji misalnya.. tiba-tiba di sms di ajakin main UNO.. atau pas mau puasa sunnah senin-kamis.. tiba-tiba ditawarin promo diskon makanan..

  1. Kurangnya Tekad

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Ustsaim pernah ditanya, kenapa orang menjadi futur, lalu beliau menjawab Dha’ful Himmah atau tekad yang lemah

Sebagai contoh, kita semua tau kalau alasan olahraga itu biar sehat, tapi meskipun udah punya alasan yang kuat untuk olahraga.. terkadang kita tetep aja bisa futur karena kurangnya tekad..

Hal yang akan terjadi ketika kita selesai olahraga adalah timbunan asam laktat yang bikin badan kita pegel-pegel dan juga asem dan rasa pegel-pegel itu kadang bikin kita kapok buat olahraga lagi. kurangnya tekad membuat kita tidak bisa menahan perihnya perjuangan dan menjauhkan kita dari nikmatnya kesuksesan.

Futur terjadi ketika kita kurang tekad walaupun alasan kita sudah jelas dan godaan sudah kandas. Dalam berjuang, belajar, dan melakukan segala sesuatu memang menimbulkan kelelahan yang harus kita tahan untuk mencapai keberhasilan.. bahkan buat ngupil aja kita perlu berusaha memposisikan dan menggerakan ujung jari kita agar mencapai harmoni dan mendapatkan upil terbaik yang ada.. bayangkan kalau kita nggak punya tekad buat ngupil.. hipoxia pasti..

  1. Cara bekerja yang salah

Selama kalian sekolah, kalian pasti akan berhadapan dengan dua jenis guru.. guru yang kayak obat tidur atau nggak enak ngajarnya, dan guru yang kayak gamefantasia alias enak ngajarnya.. diantara dua jenis guru tersebut, guru yang enak ngajarnya biasanya mempunyai jenis metode mengajar yang asik, unik, lucu, berbeda dan nggak ngebosenin.. sedangkan guru yang ga enak ngajarnya pasti bikin bosen dan seakan akan meminta kita untuk bolos di mapelnya.. yang membedakan dua jenis guru ini adalah tata cara mengajarnya.. hanya dari perbedaan tata cara mengajar saja, murid dari guru yang asik bakalan lebih paham materi dibandingkan dari murid dari guru yang ngebosenin.

Begitu juga dengan Futur, ke Futuran terjadi ketika kita bosan terhadap sebuah proses. Terlebih kalau proses yang kita jalani cuma gitu-gitu aja nggak ada asik-asiknya.. karena kita kurang kreatif dalam menciptakan sebuah proses, akhirnya kita bosan dan endingnya menjadi Futur..

Gimana untuk mengatasi Futur ?

Ada 4 hal utama yang menyebabkan futur, dan kita bisa mulai dari 4 hal itu juga untuk mengatasi timbulnya Futur.

  1. Buat tujuan dan alasan yang jelas

Alasan pertama kita futur adalah karena tidak adanya alasan yang jelas atau tujuan yang jelas kenapa kita harus berusaha. Cara mudah untuk menciptakan sebuah tujuan dan alasan yang jelas adalah Lillahi Ta’ala atau hanya demi Allah semata. Karena apabila perjuangan kita diniatkan kepada Allah, maka nggak mungkin kita akan kehilangan alasan, karena Allah selalu ada dan nggak mungkin kita nggak punya tujuan karena Allah selalu disana. Allahlah seharusnya yang menjadi alasan dan tujuan kita melakukan segala sesuatu.

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya..,”

-HR Bukhari-

Daripada bingung mencari alasan dan tujuan, Allah selalu ada untuk menjadi alasan dan tujuan kita. Selain selalu ada, juga menjaga kita dari perbuatan yang buruk.. Nggak mungkin kan kita belajar jadi maling terkenal karena Lillahi ta’ala kan? Maka, selain menjadi tujuan agar kita tidak Futur.. niat kepada Allah juga menjaga kita dari kufur.

  1. Jauhi Godaan

Cara paling aman untuk melawan godaan terhadap Futur adalah dengan menjauhi godaanya, contohnya daripada kita diganggu terus sama temen kita yang selalu ngajakin kita main tiap kita mau belajar agama, mendingan kalian jauhi teman kalian atau kita masukin saja mereka dalam kulkas.

“Jauhilah zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan buruk”

-Al Isra 32-

Ketika kita tidak bisa menjauhi godaan, maka mau tidak mau kita lawan. Dengan cara intervensi langsung atau tidak langsung. Contoh intervensi langsung adalah apabila kalian punya temen yang suka gangguin waktu kalian sholat, karena udah sahabatan dan nggak mungkin kita jauhi, waktu dia ganggu sholat langsung kita gebukin aja habis itu minta maaf. Hal ini tidak dianjurkan mengingat mungkin temen kita lebih gede badannya dan lebih jago berantem..dan contoh intervensi tidak langsung (disarankan) adalah dengan mendekatkan diri kita kepada Allah agar iman kita ditingkatkan dan tidak mudah tergoda oleh godaan.

  1. Perbulat Tekad

Meski kita sudah memiliki tujuan yang jelas, kreatif, dan menjauhi godaan.. tapi tidak memiliki tekad, kita tetap akan futur. Tekad adalah kunci utama yang menjauhkan kita dari Futur.. Tekad diperbulat dan diperkuat dengan banyak memotivasi diri sendiri, banyak baca referensi yang bisa mengembalikan semangat kita, dan juga dari dukungan lingkungan luar.. berteman dengan orang-orang yang mendukung kita juga salah satu cara untuk menguatkan tekad kita.

  1. Memperbaiki cara belajar

Bosan adalah salah satu penyebab utama dari Futur, dan bosan bisa kita atasi dengan menyesuaikan cara belajar yang tepat dan juga mencoba hal baru. Misalkan biasanya kita belajar agama cuma dengan baca buku di rumah, dan akhirnya kita bosen karena cuma gitu-gitu aja.. kalian bisa coba hal baru dengan misalnya nonton video agama, atau baca buku di tempat lain selain di rumah.. atau kalian ngadain acara camping agama bareng.

  1. Bersabar

Diantara semua itu, solusi bersabar adalah solusi yang paling tepat untuk mengatasi Futur. 

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini”

-Al Kahfi 28 –

Sabar adalah sesuatu hal yang menjadikan puasa kita nggak batal, hidup kita nyaman, dicinta Allah dan terutama anti terhadap Futur.. masalah yang terjadi ketika awal-awal kita belajar agama adalah karena kita pengen langsung jadi dr Zakir Naik, kita pengen instan padahal sebuah kesuksesan besar tidak ada yang instan. Semuanya memerlukan waktu dan yang jelas memerlukan kesabaran.

Futur adalah sebuah hal yang wajar dan biasa terjadi kepada manusia.. yang membedakan orang sukses dan tidak sukses bukanlah apakah dia pernah futur atau tidak melainkan apakah dia bisa bangkit dari futur atau tidak.. para sahabat Nabi pun juga pernah mengalami futur.. namun mereka tidak menyerah pada kefuturan melainkan bangkit kembali dan sekarang menginspirasi kita melalui cerita-ceritanya..

Hanya ada 2 jalan ketika kamu futur, yaitu menjadi Kufur atau bangkit membangun bright future.

Kapan ke Majelis Ilmu lagi?

Pagi siap-siap kuliah, kerjakan tugas yang belum selesai.

Kemudian berangkat kuliah, selesai siang atau sore, belum lagi kalua ada praktikum.

Setelah itu mengerjakan tugas, laporan, kunjungan lapangan.

Belum lagi kalau kamu  anak organisasi, rapat, rapat, dan rapat.

Malam, review mata kuliah sampai ketiduran.

3,5 tahun atau lebih kita akan disibukkan dengan aktivitas Mahasiswa yang suuper sibuk.

Namun ingat kembali, setelah kuliah selesai, wisuda, lulus, sibuk cari kerja, dan mengejar jenjang karir.

Lalu menikah karena sudah berpenghasilan dan merasa “mampu”.

Tunggu dulu, memangnya sudah siap ilmu agama kita untuk mendidik istri kita? (bagi suami) atau menjaga hak suami dan menjadi madrasah pertama anak-anak kita? (bagi istri)

Saat menikah sih berdoa, “Semoga keluarganya sakinah, mawaddah, warahmah”…

Tapi apakah doa itu hanya sebatas doa (harapan) saja tanpa usaha? Apa usaha yang harusnya kita lakukan agar punya ilmu membangun rumah tangga? Boro-boro ilmu dalam rumah tangga, dasar ilmu agama kita apakah sudah diperbaiki?

Astaghfirullah, kita seringkali lalai akan kewajiban kita sebagai muslim dan sibuk mengejar “prestasi” “perhiasan” dunia… Kemudian merasa “terlalu sibuk” untuk Belajar ilmu agama..

 

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”.

(HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

 

Berdasarkan hadits tersebut, ilmu itu wajib dipelajari. Ilmu seperti apa? Yakni ilmu syar’I atau ilmu agama.

 

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’“.

(QS. Thaaha [20] : 114)

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan pada ayat tersebut ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan ilmu yang wajib dipelajari seorang muslim yakni :

Pertama, pokok-pokok keimanan.

Kedua, ilmu tentang syariat-syariat Islam.

Ketiga, lima hal yang diharamkan  yang disepakati oleh para Rasul dan syariat sebelumnya.

Keempat, ilmu yang berkaitan dengan interaksi antar perseorangan secara khusus seperti istri, anak, keluarga, dan lain sebagainya.

Satu ilmu saja sungguh perlu kajian khusus, bagaimana keempat hal wajib tersebut bisa kita pelajari dalam waktu singkat? Maka perlu kita biasakan mengikuti kajian agama Islam secara rutin dan Meluangkan waktu untuk Belajar agama sesibuk apapun aktivitas kita.

Selain karena memang kita membutuhkan ilmu tersebut, merupakan tanggung jawab kita yang akan dipertanyakan diakhirat, digunakan untuk apa waktu kita masih hidup? Saya kira akan terlihat siapa yang benar-benar ingin meraih akhirat atau justru lebih cinta dunia di akhirat kelak. Tapi, benarkah kita cinta akhirat dan ingin mendapat ridha Allah semata? Jika iya, pastinya kita sudah sibuk dengan belajar agama saat ini.

Bagaimana dengan Belajar agama di Internet?

Saudaraku, sebaiknya kita mulai kurangi aktivitas “tidak penting” kita di media sosial. Mulailah kita sibukkan diri dengan mengikuti kajian di dunia nyata, karena akan terasa bedanya.

Di Internet, ada banyak sekali fitnah atau Ujian yang bisa menyebabkan kita lalai atau bahkan lupa hakikat belajar agama. Sebut saja fitnah lawan jenis, gambar, hoax, fenomena mendadak ustadz, debat kusir soal agama, ketinggalan shalat berjamaah di masjid bagi ikhwan, dan akhirnya malas untuk datang ke kajian atau majelis ilmu di dunia nyata.

 

Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.”

[HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].

 

Dalam majelis ilmu, kita akan mendapatkan ketenangan, bisa menghilangkan stress, dan lelah kehidupan dunia yang semu.

 

“Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.”

(HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795)

 

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)

Serta akan dinaungi rahmat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

“Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).

 

Dalam majelis ilmu di dunia nyata, kita juga dapat belajar atau mendapat contoh langsung akhlak dan taqwa dari ustadz atai syaikh. Sebagian kita beranggapan ilmu itu hanya materi ilmu saja yang perlu diingat. Padahal yang terpenting adalah contoh langsung akhlak, taqwa, kesabaran, tawaddu’, dan wara’ dari para ustadz atau syaikh. Karena jika hanya sekedar ilmu, semua orang bisa berbicara. Namun untuk menerapkan dan mencontohkannya hanya beberapa orang yang Allah beri taufik yang bisa melakukannya. Sehingga perlu kita ketahui juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adabnya terlebih dahulu, baru ilmunya.

Kemudian, dalam majelis ilmu, kita bisa bertemu dengan orang-orang shalih yang sama berorientasi pada akhirat. Hal ini bisa memperkuat iman kita, serta memunculkan persaingan sehat mengejar akhirat.

Dan yang utama juga adalah mudahnya mendapat penjelasan, dan dapat dikoreksi kekeliruan pemahaman kita. Karena jika hanya belajar lewat internet saja, hal ini akan meningkatkan risiko error pemahaman dan salah paham yang bisa berakibat pada amalan kita yang sia-sia atau justru salah.

Bagi mereka yang sudah merasakan indahnya majelis ilmu, hal ini akan terasa mudah dan justru menjadi kebutuhan bagi mereka. Karena “rekreasi” mereka adalah majelis ilmu yang mengingatkan tentang Allah dan akhirat, kampung kembali yang kekal. Kepenatan dan kejenuhan duniawi akan sirna dengan mengingat akhirat. Dalam seminggu saja jika tidak hadir, akan terasa ada yang kurang.

Berbeda dengan mereka yang belum merasakan indahnya majelis ilmu, yakni nikmat ilmu dan pemahaman agama yang baik, rekreasi yang mereka pilih diantaranya adalah konser musik.  Padahal, dahulu di zaman keemasan Islam, majelis ilmu jauh lebih ramai bahkan mengalahkan konser musik yang ada saat ini.

“Umar bin Hafs menceritakan bahwa Al-Mu’tashim memperkirakan orang yang hadir di majelis ‘Ashim bin Ali bin ‘Ashim di lapangan pohon kurma yang berada di kawasan masjid jami’ Ar-Rushafah. Mu’tashim mengatakan bahwa ‘Ashim bin Ali duduk di bagian atas atau atap rumah dan manusia menyebar di sekitar lapangan. Orang-orang yang hadir terus bertambah sehingga terkumpul jumlah yang sangat besar. Sampai suatu hari, aku mendengar ‘Ashim berkata, ‘Al-Laits bin Sa’ad menyampaikan hadits kepada kami’. Ia mengulangnya sebanyak 14 kali karena orang-orang tidak bisa mendengarnya. Ia berkata: Harun harus menaiki pohon yang bengkok untuk mendengarnya [mencatat]. Maka berita ini sampai ke Al-Mu’tashim mengenai banyaknya jumlah yang hadir. Maka ia memerintahkan orang agar memperkirakan jumlah mereka. Maka ia memperkirakan -dengan patokan sebagaimana kelompok-kelompok kambing- maka diperkirakan yang menghadiri majelis sekitar 120 ribu.” [Taarikh Bagdad 14/170,  Darul Gharb Al-Islami, Beirut, 1422 H, Syamilah]

“Aku telah menghadiri majelis Sulaiman bin Harb di Baghdad dan mereka [para Imam hadits] memperkirakan jumlah yang hadir sekitar 40 ribu orang. “ [Al-Jarh wat ta’dil 4/108, Dar Ihya’i At-Turats, Beirut, 1271 H, Syamilah]

Bahkan ada yang harus “booking tempat“ untuk bisa menghadiri kajian tersebut karena ramainya yang ingin menghadiri.

“Saya melihat majelis Al-Firyabi yang diperkirakan terdapat 15 ribu tempat tinta. Kami harus menginap di tempat yang akan di dudukinya besoknya untuk dapat menghadiri majelis.” [Al-Kamil fi dhu’afa At-Rijal 6/407, Dar Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1418 H, Syamilah]

Artinya, terjadi perbedaan orientasi hidup muslim saat ini dengan zaman keemasan Islam. Masih inginkah kita mengejar duniawi dan mencari rekreasi yang kurang bermanfaat untuk kehidupan dunia, apalagi bermanfaaat untuk kehidupan akhirat? Atau masih peduli kah kita dengan akhirat kita nanti?

Jika masih peduli, yuk kita datang ke majelis ilmu, ke kajian yang benar-benar berisi ilmu, bukan untuk mencari canda / tawa / hiburan sementara. Tapi hiburan dengan siraman ilmu yang menyejukkan hati dan mengingatkan kita pada akhirat, yakni majelis ilmu yang menjadikan kita tidak “nafsu” untuk mengejar dunia secara berlebihan, hanya untuk dunia saja. Sehingga, prioritas akhirat kita terjaga, menguatkan iman, dan bisa mendapatkan ketenangan hati di tengah kehidupan kita “yang sibuk” ini.

Allahua’lam.

 

Oleh Azhar Rafiq dari SKI Asy-Syifa FK Unram @Mataram, NTB, Senin, 14 Agustus 2017

 

Daftar Pustaka :

Bahraen, R. (2012). Jangan Terlalu Banyak Menuntut Ilmu Agama Di Dunia Maya | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/jangan-terlalu-banyak-menuntut-ilmu-agama-di-dunia-maya.html

Bahraen, R. (2012). Majelis Ilmu Mengalahkan Konser Musik | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/majelis-ilmu-mengalahkan-konser-musik.html

Bahraen, R. (2013). 10 Fitnah (Ujian) Agama Di Facebook Dan Dunia Maya | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/10-fitnah-ujian-agama-di-facebook-dan-dunia-maya.html

Hakim, M. S. (2013). Setiap Muslim Wajib Mempelajari Agama | | Muslim.Or.Id. Retrieved August 14, 2017, from https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html

Tuasikal, M. A. (2016). Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu – Rumaysho.Com. Retrieved August 14, 2017, from https://rumaysho.com/12717-ketenangan-jiwa-dalam-majelis-ilmu.html