PENDAFTARAN FASILITATOR MMLC NASIONAL 2017

 

 

FASILMMLC ext

MEKANISME PELAKSANAAN

A. Timeline
1. Pendaftaran dan Pengumpulan berkas 8 Juni 2017 – 16 Juli 2017.
2. Seleksi Berkas : 17 Juli 2017 – 22 Juli 2017
3. Pengumuman Calon fasilitator Terpilih: 23 Juli 2017
4. Upgrading : *tanggal menyusul*
* Jadwal upgrading dapat berubah dengan pemberitahuan lebih lanjut
B. Tahap Pendaftaran Peserta
1. Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan dengan melampirkan scan Kartu Identitas (Kartu Tanda Mahasiswa). Melampirkan pas foto berwarna terbaru ukuran 3×4 (1 lembar), membuat esai dan surat rekomendasi dari LDFK.
2. Mahasiswa muslim Fakultas Kedokteran Angkatan 2014-2015
3. Pernah mengikuti Acara MMLC Nasional FULDFK
4. Sehat jasmani dan rohani, dan siap mengemban amanah
5. Membuat tugas esai:
a. Esai 1
​Bagaimana pandangan anda tentang FULDFK dewasa ini ? dan apa yang ​sebaiknya dikontribusikan oleh FULDFK untuk Indonesia?
b. Esai 2
Bagaimana Urgensi Kepemimpinan Muslim masa kini ?
c. Esai 3
​Apakah MMLC masih dibutuhkan oleh para kader LDFK, mengingat ​pengkaderan di LDFK sudah semakin baik?
Esai diketik menggunakan font Calibri, ukuran 11, Line spacing 1,5 cm, ukuran Kertas A4, Margin tipe “Normal”, minimal 400 kata.
6. Berkas pendaftaran yang harus disiapkan berupa:
a. Formulir pendaftaran
b. Scan kartu identitas
c. Surat rekomendasi dari LDFK
d. Foto 3×4 (setengah badan)
e. Tugas esai
7. Pengumpulan berkas pendaftaran tersebut dijadikan satu file berbentuk “RAR” dan dikirimkan ke email : pnk.fuldfk@gmail.com
8. Setelah mengirimkan berkas tersebut, peserta langsung melakukan konfirmasi kepada panitia via SMS dengan format Nama#Asal LDFK#FASILMMLCNAS2017 dan dikirim ke:
– Ikhwan : 085330386899 (Pram)
– Akhwat : 081230366824 (Luluk)
C. Materi MMLC Nasional 2017
1. Kedokteran Islam, Profil Dokter Muslim, dan Dakwah Profesi
2. Urgensi FULDFK dan Persatuan LDFK
3. Marketing Dakwah (Managemen Syi’ar)
4. Manajemen SDM
5. Networking and the Power of Silaturrahmi
6. Islamic Leadership
7. RPO & SWOT
8. Manajemen Wacana Publik
9. Ghazwul Fikr
10. Urgensi Dakwah

Formulir pendaftaran fasilitator MMLC dapat diunduh pada link di bawah ini:

Formulir Pendaftaran Fasilitator MMLC Nasional 2017

Ramadhan Datang, BukBer Yuk…

bukber

Ramadhan datang, BukBer yuk…

Assalamu’alaikum ikhwah, bulan Ramadhan gini pasti Hp kalian ramai dengan undangan buka bersama (bukber) bukan? Dari hari pertama puasa aja udah ada yang ngajakin bukber, lanjut hari kedua, ketiga, bahkan sampai H-1 lebaran masih ada aja yang ngajakin bukber. Mulai bukber teman kuliah, teman SMA, teman SMP, teman SD, teman TK, teman main, teman galau dan yang paling parah teman tapi mesra. SubhanaAllah. Sampai bingung mau milih yang mana kalau ada ajakan dihari yang sama.

Ga ada yang ngelarang kita buat bukber, toh itu bagus untuk menjalin silahturrahim antar sesama. Karna Rasulullah bersabda “Bertakwalah kalian kepada Allah dan sambunglah tali sillaturrahim diantara kalian” (Hadits Hasan, Riwayat Ibnu ‘Asakir. Lihat Shahiihul jaami’ no.108)

TAPI, lihat sikon lahh.. bukber sih bukber, tapi jangan sampai melalaikan kewajiban kita sebagai manusia, yaitu beribadah kepada Allah.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku

[Adz-Dzariyat : 56]

Kalau sudah denger adzan, segeralah berbuka. Baca basmalah minum dan makan kurma aja cukup, dan jangan lupa berdo’a.

Lalu makan besarnya? nanti aja. Segeralah mengambil air wudhu dan menunaikan shalat maghrib. Jangan lupa teman-temannya diingatkan. Malu? Merasa nggak enak? Atau takut dibilang sok alim? Buang jauh-jauh perasaan tersebut, karena apa? Bukankah kita dianjurkan untuk saling menasehati dalam kebaikan? Jika mereka masih enggan mengangkat kaki dari tempat makan, tinggalkan saja !!! Mungkin mereka berniat menghabiskan makananmu yang kamu tinggalkan untuk sholat. *eh* Doakan aja mereka dalam sujudmu agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada mereka.

 

“Dan disini ada suatu perkara yang wajib untuk diperingatkan, yaitu bahwasanya sebagian orang terkadang duduk  menikmati hidangan buka puasanya dan makan malam, dalam keadaan ia meninggalkan shalat magrib secara berjamaa’ah di masjid. Maka dengan itu, ia telah terjatuh dalam kesalahan besar, yaitu tidak ikut shalat berjama’ah di masjid”

AL Mulakhkhas Al Fiqhi 1/305

Biasanya, kalau bukber gini, makannya sih cuma sebentar, ngobrolnya itu yang lama. Apalagi kalau bukbernya bareng teman lama yang ketemunya cuma setahun sekali. Yang dibahas adaaa aja, sampai ga terasa waktu Isya’ dan sholat tarawih tiba. Disaat yang seperti ini, pasti ada yang sungkan mau ninggalin temen, terlintas di pikiran : “sayang ah, ketemu cuma setahun sekali masak cuma bentar doang, baru juga ngobrolin masa lalu, ngobrolin masa depannya kapan dong?, akhirnya kebanyakan jadi begini nih : “ah, kan sholat isya’ masih panjang waktunya, sholat tarawih kan juga sunnah, nanti sholat di rumah aja lah, nanggung ini ngobrolnya.” Hmmmm

Nggak sungkan sama Allah yang sudah ngasih nikmat buat kamu bisa ketemu sama teman-teman? Apa enaknya menunda berkomunikasi dengan Allah yang menjadikan pertemuanmu dengan temanmu sangat lancar? Yakin masih mau motormu terpakir di halaman restoran, sementara yang lain sedang parkir di halaman masjid untuk menjemput pahala dari Allah? Yakin mau mengikhlaskan pahala qiyam satu malam penuh?

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”

(HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

One more, buat temen-temen anak rantau, kalau udah pulang kampung, jangan tiap hari bukber diluar bareng temen ya, ga kangen masakan ibu apa? Ingat, orangtua juga ingin kita buka di rumah. Jangan baru satu hari dirumah, udah keluyuran kemana-mana.

Ga ada yang mengharamkan buat bukber kok, tapi Ingat lagi kewajiban mu sebagai seorang hamba Allah dan seorang anak dari ibu dan bapakmu!.

Tahun Dukacita Rasullullah

Tahun Dukacita
Rasulullah

Wafatnya Abu Thalib

Menjelang kematian Abu Thalib,Rasulullah sempat menemuinya dan pada saat yang bersamaan di dekatnya terdapat Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah. Rasulullah berkata, “ Wahai pamanku , Laa ilaaha ilallah. Ini adalah sebuah kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.” Lalu Kedua orang (Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah) itu berkata,”Wahai Abu Thalib,apakah engkau benci kepada agama ‘Abdul Muththalib?” Keduanya terus menerus mengatakkannya (seperti itu),hingga Abu thalib berkata di akhir hayatnya.”Aku di atas agama ‘Abdul Muthalib”.

Rasulullah pun menjawab,” Sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang dari (hal itu untuk) mu.” Lalu turunlah (ayat) At-Taubah ayat 113 dan Al-Qasash ayat 56 :
“Sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) tidak akan mampu untuk memberikan petunjuk (hidayah taufik) kepada orang yang engkau cintai.”

Khadijah Menuju Ke Rahmatullah

Belum berakhir duka Rasulullah dengan wafatnya Abu Thalib,menyusul pula Ummul Mu’minin Khadijah. Itu terjadi pada Bulan Ramadhandi tahun yang sama yakni tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib sejarak kurang lebih 2 bulan atau (ada yang mengatakan) tiga hari saja. Khadijah bagi Rasulullah adalah pendamping yang membenarkan Al-Islam,yang membantu beliau dalam menyampaikan risalah, juga yang menolong beliau dengan jiwa dan hartanya, serta ikut menanggung semua gangguan dan kesedihan bersama beliau.

Rasulullah pernah berkata , “Dia telah beriman kepadaku di kala orang-orang mengharamkannya untukku, dan Allah memberiku rizki dengan anak-anaknya, sementara Allah tidka menganugerahkan anak dari istri-istriku selain dia.”

Nabi sering menyebutnya,mendoakan rahmat untuknya, dan selalu terbawa perasaan sedih dan haru setiap kali mengingatnya. Beliau sering menyembelihkan seekor kambing lalu mengirimnya kepada sahabat Khadijah.

Wafatnya sang paman dan sang istri membuat penganiayaan kaumnya terhadap Rasulullah semakin keras. Sampai-sampai seorang yang dungu dari sekian orang yang kurang akal di kalangan Quraisy pernah menaburkan tanah ke kepala Nabi. Sehingga salah seorang putri beliau harus membersihkannya sambil menangis. Beliau berkata, ”Janganlah engkau menangis,wahai putriku. Sungguh Allah yang akan menjaga ayahmu ini.”

Beliau juga berkata, ”Tidak pernah orang-orang Quraisy itu menganiayaku sedikitpun yang paling aku benci hingga datangnya kematian Abu Thalib.”