Pengumuman Recruitment Pengurus FULDFK 2016

Kini telah tiba saatnya

Ketika amanah memanggil pemiliknya

Sebagai tanda bahwa perjuangan segera dimulai

Perjuangan dakwah yg terasa nikmat dalam dekapan ukhuwah

Percayalah dan rasakanlah kedahsyatannya wahai sang pemilik amanah, wahai keluarga baru kami

Selamat kami ucapkan kepada sang pemilik amanah keluarga baru dewan eksekutif pusat fuldfk 2016

 

Ya Allah…Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati ini telah berkumpul utk mencurahkan cinta hanya kepadaMu, bertemu dalam rangka menyeru dakwah di jalanMu dan berjanji setia utk membela syariatMu. Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tuntun langkah kami dan penuhilah dengan cahayaMu yang tidak akan pernah redup

 

SUSUNAN KEPENGURUSAN DEWAN EKSEKUTIF PUSAT

FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA (FULDFK) PERIODE 2016

 

Ketua                     :    Muhammad Rizki

(Universitas Sriwijaya)

Sekretaris            :  Anandyo Septiawan

(Universitas Islam Indonesia)

Bendahara           :  Janet Andriani Paramita S

(Universitas Islam Sumatra Utara)

Departemen Pemberdayaan dan Kaderisasi (P dan K)

Kadep: Robby Ashar   (Universitas Islam Bandung)

Staf :

Reza Redha Ananda Universitas Tanjungpura
Iqbal Muhammad Universitas Sumatra Utara
M. Ikhsan Nurmansyah Universitas Sriwijaya
Fatimah Azzahrah Hamid Universitas Hasanuddin
Ita Rahmatika Universitas Sriwijaya
Khonsa Tsabitah Universitas Airlangga
Ariana Universitas Tanjungpura
Aulia Maruapey Universitas Trisakti
M. Ilham Muttaqin Universitas Padjajaran
Afif Naufal Al Mutawakkil Universitas Hasanuddin
Ahmad Bakri Saragih Universitas Indonesia
Alfan Rizki Nur Rohman Universitas Muhammadiyah Malang
Faishal Anwar Universitas YARSI
Muhammad Kurniawan Universitas Islam Sumatra Utara
M. Faisal Libryan Syamsul Universitas Airlangga
Ri’fatul ifada Universitas Muhammdiyah Malang
Rizki Adena Putri Universitas Bengkulu
Ayu Nanda Sari Universitas Malikussaleh
Rama Iqbal Mahendra Universitas Gadjah Mada

Departemen Informasi Teknologi (IT)

Kadep: Arif Wibowo   (Universitas Malahayati)

Masyhananda Mahardika A Universitas Islam Indonesia
Rizky Eka Putra Universitas Islam Sumatra Utara
Zirda Chairiani Universitas Andalas
Muhsinin Nikmah Universitas Malikussaleh
Danial Ahmad Universitas Jendral Ahmad Yani
Ratna Chairunnisa Universitas Palangkaraya
Silmi Kaffah Universitas Sriwijaya
Hani Zahiyyah Universitas Lampung

Departemen Hubungan Masyarakat (Humas)

Kadept : Azmi Agnia   (Universitas Islam Negeri Jakarta)

Staf :

Kharisma Ridho Husodo Universitas Brawijaya
M Mirza Al-Farizi Universitas Airlangga
Eka Saifi Firdausi Universitas Islam Malang
Dina Rosalina Universitas Islam Sumatra Utara
Tri Hastuti Universitas Muhammadiyah Semarang
Dara Syifa Sakinah Universitas Bengkulu
Dwi Wahyu Setiyarini Universitas Gadjah Mada
Nurul Fathia Shafira A Universitas Trisakti
Ahmad Sabiq Universitas Malikussaleh
Khairunnisa Universitas Sriwijaya
Sandy Prasaja Universitas Sriwijaya

 

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi (KKIA)

Kadep: Sandria Azhar  (Universitas Sriwijaya)

Staf :

Okti Rendra Universitas Islam Sumatra Utara
Rezeki Ananda E Universitas Lambung Mangkurat
Rafsanjani H Universitas Dipenogoro
Khoirul Fahmi Universitas Gadjah Mada
Yenni Meftha Fauzia Universitas Bengkulu
Annisa Muryati Universitas Sumatra Utara
Ahmad Ramadhan Asif Universitas Dipenogoro
Riyan Fauzan Universitas Islam Bandung
Vando F. Sardi Universitas Andalas
Rosyid Prasetyo Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nita Widjaya Universitas YARSI
Hanan Anwar Rusidi Universitas Udayana
Faisal Ridho Sakti Universitas Islam Indonesia
Maisarah Universitas Padjajaran
Aisyah Liputra Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Departemen Finansial

Kadep: Fajrina Nurtamimi (Universitas Malahayati)

Staf :

Putri Mayang Sari Antariksa Universitas Malikussaleh
Dara Phona Ardianty Universitas Malikussaleh
Aulia Putri Adila Universitas Malikussaleh
Sabrina Qurrotaa’yun Universitas Muhammadiyah Jakarta
Ulfatul karomah Universitas Brawijaya
Aghfira Putri Anderi Universitas Muhammadiyah Malang
Rasyidah Fikri Izzudinah Universitas Hang Tuah
Anas Jatikusuma Universitas Airlangga
Rendra Imawansyah Universitas Cendrawasih
Ridha Rahmatania Universitas Tanjungpura

 

Departemen Kemuslimahan

Kadep: Halimatusakdiah  (Universitas YARSI)

Staf :

Restu Dewi Lestari Universitas Muhammadiyah Semarang
Loli Rasita Ginting Universitas Malikussaleh
Rizka Ramadhiyah Universitas Sriwijaya
Fivi larashati Universitas Malahayati
Ade permata sari Universitas Islam Sumatra Utara
Sari Azzahro Said Universitas Muhammadiyah Jakarta
Afifah Sholiha Universitas Muhammadiyah Malang
Mardliyana Shalihah Universitas Airlangga
Zuhdina kamaliah Universitas Sumatra Utara
Ahya Azizah Universitas Lambung Mangkurat
Octavia Ukhti Prakarsi Universitas Sriwijaya
Dina Fitria Universitas Sriwijaya
Hedya Nadhrati Surura Universitas Malikussaleh

Mengetahui,

Ketua Umum FULDFK,

 

Muhammad Rizki

6 Kunci Surga Seorang Suami

Dilansir dari : media.shafira.com

Suami adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagaimana layaknya seorang pemimpin, ia harus menjadi teladan dan memegang tanggung jawab penuh atas orang-orang yang dipimpinnya. Memang tidak ada dalil yang secara jelas mengungkapkan bahwa surganya seorang suami tergantung pada sikapnya terhadap sang istri, tapi beberapa firman Allah dan sabda Rasulullah berikut ini dapat menggambarkan bahwa perlakuan yang baik dan sesuai dengan syariat Islam, akan mendapatkan ridha Allah sehingga akan menuntunnya menuju surga-Nya. Inilah 6 Kunci Surga Seorang Suami:

  1. Memperlakukan istrinya dengan baik

Kunci pertama yang akan menuntut seorang suami menuju surganya adalah cara ia memperlakukan istrinya dengan baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 19, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.”

  1. Memberi istrinya makan, pakaian, dan mendidiknya

Apa yang seorang suami makan, apa yang ia pakai, dimana ia tinggal, dan berbagai fasilitas lain yang dinikmati oleh seorang suami hendaknya dapat dinikmati pula oleh istrinya. Sebagaimana sabda Rasulullah kepada orang yang bertanya terhadap beliau tentang hak istri atas dirinya, “Hendaknya engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Daud).

  1. Mengajarkan ilmu agama

Hendaknya seorang suami mengajarkan persoalan-persoalan yang belum diketahui istrinya perihal agama, atau mengizinkannya menghadiri forum-forum ilmiah untuk belajar di dalamnya. Sebab, kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama sama pentingnya seperti memenuhi kebutuhan terhadap makanan serta pakaian. Terkait hal ini Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

  1. Mewajibkan istri melaksanakan ajaran Islam

Kewajiban suami tidak cukup sebatas mengajarkan ilmu agama saja, tapi ia juga harus mewajibkan istrinya untuk dapat melaksanakan semua ilmu agama yang sudah istrinya ketahui dengan baik, sebab seorang suami adalah penanggung jawab bagi istri dan diperintahkan menjaga serta mengayominya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan diminta pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya.” (HR. Muttafaq Alaih).

  1. Berlaku adil terhadap istrinya

Bagi suami yang memiliki istri lebih dari satu, hendaknya ia berlaku adil terhadap istri-istrinya. Baik dalam makanan, minuman, pakaian, rumah, serta pembagian waktunya. Ia tidak boleh bersikap curang dalam hal-hal tersebut, atau bertindak zhalim, karena hal ini diharamkan Allah seperti yang Ia sampaikan dalam firman-Nya, “Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja, atau budak-budak wanita yang kalian miliki.” (QS. An-Nisa’: 3).

  1. Tidak membuka rahasia istrinya

Dan kunci surga yang terakhir, tidak diperbolehkan bagi seorang suami membuka rahasia istrinya atau membeberkan aibnya, sebab ia orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga dan melindungi istrinya. Hal ini diungkapkan Raulullah dalam sabdanya, “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ialah suami yang menggauli istrinya, dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut.” (HR. Muslim).

Demikianlah kewajiban yang harus ditunaikan seorang suami terhadap istrinya. Dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut, maka sempurnalah seorang suami dalam memimpin keluarganya. Dengan begitu Allah pun akan memandangnya dengan tatapan rahmat, serta bersiap membukakan pintu surga untuknya. Allohumma Aamiin.

4 Kunci Surga Seorang Istri

Dilansir dari :  media.shafira.com

Barangkali Anda pernah mendengar kisah tentang seorang shahabiyah (sahabat wanita) Rasulullah yang tidak pernah keluar rumah selain atas izin suaminya. Hal itu istiqamah ia lakukan bahkan ketika ia mendapat kabar tentang wafatnya sang ayah. Saat itu banyak orang menghujat sikapnya yang tidak datang bertakziah ketika ayahnya wafat, namun ternyata Rasul mengatakan bahwa ia menjadi ahli surga disebabkan kataatannya pada suami.

Kisah tersebut bisa kita jadikan contoh betapa Islam sangat menghargai hak-hak suami atas istrinya. Karena pernikahan merupakan sebuah perjanjian mulia yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan seorang suami pada istrinya, maupun yang harus dilakukan istri pada suaminya.

Hak-hak suami yang wajib dipenuhi istri sangatlah agung. Begitu agungnya sampai Rasulullah pun bersabda, “Seandainya Aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya.”(HR Abu Daud dan Al-Hakim).

Tidak cukup sampai di situ saja, bahkan bagaimana sikap seorang istri dalam memenuhi hak suaminya tersebut bisa menjadi penentu nasibnya di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Perhatikanlah selalu bagaimana hubungan engkau dengan suamimu, karena ia adalah surgamu dan nerakamu”(Shahih. Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ath Thabrani).

Karena suami adalah penentu surga atau neraka bagi istrinya, maka seorang istri harus mengetahui apa saja yang harus dilakukan agar ia bisa menjadi ahli surga. Inilah 4 kunci surgaseorang istri:

  1. Taat kepada suami

Sebagai seorang istri wajib mentaati suaminya selama yang diperintahkan suami tidak dalam kemaksiatan kepada Allah. Firman Allah, “Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.”(An-Nisa’: 34)

  1. Menjaga kehormatan suaminya

Istri shalihah ialah istri yang dapat menjaga kehormatan suaminya, kemuliaannya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S An-Nisa ayat 34, “Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka.”

  1. Tetap berada di rumah suami

Kunci surga yang ketiga adalah hendaknya seorang istri tidak keluar rumah kecuali atas izin suaminya. Dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya. Hal ini disebutkan dalam dalil berikut, “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.”(Al-Ahzab: 33)

  1. Menyejukkan pandangan

Poin terakhir yang menjadi kunci surga bagi seorang istri adalah bersikap serta berpenampilan dengan indah sehingga dapat menyejukkan pandangan suaminya. Sabda Rasulullah saw., “Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu.”(HR Muslim dan Ahmad).

Itulah tugas yang harus dilakukan oleh seorang istri. Karena dengan memenuhi keempatnya, maka insya Allah kunci surga ada dalam genggaman kita. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Segeralah Menikah (Syarah Bulughul Maram: Bab Nikah)

Oleh: Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Dikutip dari manhajuna.com

Point-point pembahasan hadits-hadits bab nikah dalam kitab bulughul maram (bagian 1)

1-   (967) عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ : يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ .  (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

1- (967)  Dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada kami,

“Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tangga, hendaknya dia menikah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya.”

  • Hadits ini berbicara tentang perintah menikah bagi para pemuda yang sudah mampu menikah. Meskipun redaksi haditsnya bersifat perintah, namun jumhur ulama menghukumi pernikahan sebagai perbuatan sunah, bukan wajib. Kecuali orang yang apabila menunda pernikahannya dia akan terjerumus dalam perbuatan zina. Ketika itu, menikah dihukumi wajib baginya.
  • Makna (الباءة) asalnya adalah ‘jimak’. Akan tetapi yang dimaksud ‘istitha’ah’ (mampu) dalam hadits ini adalah ‘cukup bekal untuk pernikahan dan biaya rumahtangga.’ Karena redaksi hadits ini asalnya memang diarahkan kepada para pemuda yang notabene merupakan orang yang sudah mampu berjimak. Dengan bukti bahwa ketika mereka belum mampu menikah (belum cukup perbekalan), disarankan bagi mereka untuk berpuasa dengan pertimbangan bahwa puasa dapat mengurangi syahwatnya. Jika yang dimaksud (الباءة) pada hadits ini adalah ‘jimak’, maka anjuran ‘berpuasa’ bagi orang yang belum menikah karena belum mampu ‘berjimak’ menjadi tidak tepat.
  • Lebih lengkap lagi jika (الباءة) dalam hadits ini diartikan sebagai ‘mampu berjimak dan memiliki perbekalan cukup berumahtangga’. Karena bisa jadi (meskipun jarang) ada orang yang secara materi sudah cukup namun dia tidak mampu berjimak. Hal tersebut akan membuatnya tidak dapat memenuhi hak isterinya dan menzaliminya, kecuali jika sang isteri ridha dengan hal itu.
  •  Khitab (pembicaraan) hadits ini diarahkan kepada para pemuda. Karena merekalah golongan yang paling berkepentingan dalam masalah pernikahan, sebab sedang berada dalam tuntutan puncak syahwatnya. Adapun kalau bukan pemuda, namun memiliki alasan yang sama, seperti orang tua misalnya, maka dia tetap masuk dalam makna hadits ini.
  • Hikmah pernikahan yang disebutkan dalam hadits di atas sebagai perkara yang dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan, menunjukkan diperintahkannya seseorang untuk menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, sebagaimana dia diperintahkan menjaga kehormatannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nur: 30 dan Al-Mukminun: 5.
  • Kecukupan materi bukan syarat sah pernikahan. Tapi dia merupakan sarana bagi terwujudnya  pernikahan yang harmonis. Karenanya, hadits ini tidak boleh menjadi penghalang para pemuda untuk menikah, jika diperkirakan bahwa dalam batas-batas wajar mereka dapat membiayai nafkah keluarga. Atau dengan kemampuan dan kepandaiannya, diperkirakan dia dapat mencari penghasilan untuk nafkah berkeluarga. Apalagi Allah Ta’ala telah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi orang yang menikah jika mereka adalah orang-orang miskin (QS. An-Nur: 32).
  • Namun kalau memang benar-benar belum mampu secara finansial, juga tidak harus memaksakan diri, seperti dengan hutang sana hutang sini misalnya. Dalam hal ini orang seperti itu diharap menunggu, sambil menjaga kehormatan dirinya, sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nur: 33. Atau berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
  • Hadits ini memberi isyarat tentang kewajiban memberi nafkah bagi suami terhadap keluarganya. Karena arah pembicaraan hadits ditujukan kepada pemuda laki-laki.
  • Hadits ini menjadi dalil dibolehkannya menyertakan niat lain dalam ibadah, jika niat tersebut juga bernilai ibadah. Sebab Rasulullah shallallahu memerintahkan orang yang belum memiliki bekal cukup untuk berkeluarga agar berpuasa, sementara berpuasa ibadah. Maksudnya adalah bahwa seseorang boleh berpuasa, selain dengan niat ibadah puasa, juga dengan niat agar semakin dapat mengendalikan syahwatnya. Kecuali kalau niat lain yang disertakan dalam ibadah adalah riya. Hal ini jelas tidak boleh dan dapat menggugurkan nilai ibadah itu sendiri. Adapun ibadah dengan niat lain yang mubah, seperti puasa dengan niat kesehatan, dapat dikiaskan dengan hadits ini dapat juga tidak. Wallahua’lam.
  • Hadits ini memberikan pelajaran agar mencari alternatif yang halal atas pemenuhan syahwat yang belum dapat disalurkan secara halal.   Belum mampu menikah, jangan sampai menggiring seseorang pada perbuatan yang haram, seperi pergaulan bebas, menonton film, atau melihat gambar-gambar yang merangsang dan lain-lain. Selain berpuasa, manfaatkan waktu-waktu yang ada dalam perkara-perkara positif, baik urusan dunia maupun akhirat.
  • Hadits ini juga menjadi penguat bagi para ulama yang mengharamkan masturbasi, disamping dalil lainnya. Karena jika hal tersebut dibolehkan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan memerintahkannya sebagai alternatif untuk meringankan tuntutan syahwatnya. Disamping perbuatan tersebut menurut catatan medis juga berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental.

Sumber Gambar : http://media.shafira.com/news/persiapan-perempuan-sebelum-menikah