Bersatu dalam dakwah,

solid,menyejarah,mengakar

 

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran

Wadah sinergisasi dakwah lembaga dakwah fakultas kedokteran se-Indonesia

Aktivitas Kami

Galeri dokumentasi kegiatan unggulan

Musyawarah Nasional

Rapat Kerja Nasional

Moslem Managerial and Leadership Camp

Berita

Klik menu berita untuk kabar terbaru lainnya

Pintu Surga Paling Tengah

Benda itu masih diam. Sesekali si empunya memandangi benda itu dengan hati penuh harap. Sudah beberapa hari handphone biasa yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon itu tak berbunyi sama sekali. Dalam beberapa kesempatan, si bapak ini hanya bisa memandanginya. Dan sesekali dengan berkaca-kaca. Sebelum berangkat bekerja, sepulang dari bekerja, ia sempatkan untuk menengok handphonenya. Dan yang dia dapati tetap sama, dengan mata berkaca-kaca.

Bapak ini memang tak begitu pandai mengoperasikan handphonenya. Di usianya yang lebih dari 50 tahun ini, ia baru saja memiliki handphone. Karena di saat itu, semua putra-putrinya tak ada di rumah. Bahkan yang dia tahu hanyalah fungsi dari tombol berwarna hijau untuk menerima telepon dan tombol berwarna merah untuk mematikan telepon.

Rindu. Ya, mungkin itu yang sedang ia rasakan. Yang ia hajatkan untuk anaknya. Ia rindu dengan suara anaknya. Ia ingin tahu bagaimana keadaan anaknya, apakah ia baik-baik saja. Dan hanya handphone itu yang bisa mengobati rindunya. Sesekali ia membolak-balik handphonenya, bilakah ada yang rusak dengannya. Atau yang lebih ia takuti, apa yang terjadi dengan anaknya. Dan apa daya, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu.

“Nak, tolong perbaiki hape ini.” Pinta bapak itu kepada pemuda di toko handphone ketika pagi-pagi ia membawanya ke sana.

“Iya, pak. Silakan duduk dulu.” Jawab pemuda itu dengan wajah sumringah.

“Bapak,” kata pemuda itu beberapa saat kemudian, “handphone bapak ini tidak rusak, masih berfungsi dengan baik.”

Sang bapak yang mendengar penuturan pemuda itu hanya terdiam. Sesaat kemudian dengan bulir bening menetes dari matanya ia berkata lirih. “Tetapi kenapa tidak ada telepon dari anak saya?”

__________

Kisah ini menginsyafkan kita bahwa orang tua adalah pemegang peran penting kesuksesan kita. Sedang ketika sukses itu telah kita dapat, giliran kitalah pemegang secarik kebahagiaan mereka. Bukan harta yang ia minta, bahkan ia lebih ridha harta itu jadi milik buah hatinya. Yang ia harap hanya waktu kita untuknya, kasih sayang kita untuknya. Bahkan untuk tahu kabar, yang ia harapkan bahwa kita baik-baik saja, bahwa kita masih rasakan nikmat sehat dari-Nya. Ia selalu tiupkan nafas cinta, hingga nafas cinta itu menjelma jadi indahnya masa depan kita.

Betapa beruntung kita memiliki orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya. Betapa beruntung kita memiliki orang tua yang di setiap peluhnya bahkan ia relakan untuk kita. Betapa beruntungnya kita memiliki orang tua yang dengan segala kurang dan lebihnya kita, ia selalu kedepankan kesabarannya. Dan betapa dzalimnya kita, kesibukan mengalihkan perhatian kita padanya.

______

Di lintas sejarah yang lain, terkisahlah seorang ibu yang merasakan betapa indahnya kasih sayang anaknya. Betapa kuatnya ikatan antara mereka, betapa berkah karunia Tuhannya. Di masa tuanya, dalam keadaan lumpuh lagi buta ia hanya ditemani seorang anak laki-lakinya. Pemuda yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Pemuda ini adalah pemuda langit. Ia tak terkenal di bumi, tapi terkenal di langit.

Kemudian kita tahu pemuda ini adalah Uwais Al-Qarni. Kemudian kita tahu bahwa pemuda inilah yang tanpa pernah melihatnya, Rasulullah bersabda tentang dirinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan. Tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Kala itu, Uwais Al-Qarni sangat ingin bertemu sang Nabi. Dan imanlah yang mendorongnya untuk bertemu dengan sang Nabi. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu?

“Pergilah wahai Uwais, anakku!” kata Ummu Uwais dengan haru ketika pada akhirnya Uwais mengutarakan keinginannya untuk bertemu Rasulullah,

“Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Uwais yang kala itu sangat gembira dengan ijin yang diberikan ibunya, segera berkemas untuk berangkat. Tak lupa ia menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, dan berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Sampai di rumah Rasulullah, hanya istri Nabi– Aisyah, yang dapat ia temui. Sebab Rasulullah kala itu sedang berada di medan perang. Keinginan untuk bertemu Rasulullah masih terpatri di hati Uwais Al-Qarni. Ia tak tahu kapan Rasulullah pulang. Sedang kata-kata ibunya masih terus terngiang, “Engkau harus lekas pulang.” Dan bakti kepada ibunyalah yang kemudian membersamai langkahnya pulang dan segera menemui ibunya.

Peperangan telah usai, Rasulullah pulang ke rumahnya. Beliau bertanya pada Aisyah perihal orang yang mencarinya selama ia pergi. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni, anak yang taat kepada ibunya adalah penghuni langit. “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia,” Rasulullah melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, “Perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia,” kata Rasulullah lagi seraya menatap Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, “Mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit.”

Terkisah bahwa ketika wafatnya, demikian banyak orang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazahnya. Inilah, Uwais Al-Qarni. Di dunia tak banyak orang mengenalnya, namun sejatinya ialah penghuni langit.

_____

Dari kisah Uwais Al-Qarni, kita dapat belajar bahwa memuliakan orang tua adalah suatu hal yang harus kita upayakan. Sebab ketika kita memuliakan keduanya, Allah pun akan memuliakan kita. Allah akan mencintai kita serta mengistimewakan kita dengan cara-Nya. Demikianlah, orang tua selalu bisa menjadi sebab seorang anak jadi penghuni surga.

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Engkau bisa sia-siakan pintu itu atau engkau bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Atau bahkan sebaliknya, menjadi penyebab murkanya Allah. Semoga kita terhindar dari hal ini.

Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah pada ridha orang tua dan murka Allah pada murka orang tua.” (HR. Al-Baihaqi)

Tersebab kita ingin meraih cinta Allah, kita pun harus mencintai orang tua. Maka ketika cinta itu sudah jadi pilihan, akan kita lakukan apa yang membuatnya suka. Dan akan kita jauhi apa yang tak ia perbolehkan. Dan cinta itu akan tumbuh jadi cintanya Allah. Insyaa Allah.

Maka sudah jadi tugas kita lah untuk mengupayakan yang terbaik kepada kedua orang tua kita. Semisal dengan cara menjaga hati keduanya agar tak menimbulkan murkanya. Menjaga hatinya agar tetap tenang walau misal kita jauh darinya. Bahkan ketika kita harus jauh dari mereka, yang mereka inginkan hanyalah mengetahui kabar putra-putrinya. Memastikan bahwa buah hatinya selalu dalam kondisi baik-baik saja. Oleh karena itu, jangan biarkan khawatir terus menyergapi mereka. Teruslah berkabar agar tenang hatinya dan doa terus terlantun dari bibirnya, untuk kesuksesan kita meraih cita.

Di mana pun kita berada, merekalah tempat ternyaman untuk kembali. Untuk menceritakan segala cerita, maupun untuk mengembalikan lagi asa. Hingga kita terus kuat memperjuangkan apa yang kita pilih. Bahkan ketika di tanah rantau untuk mengumpulkan ilmu, atau bahkan memperjuangkan cita-cita.

Maka kelak akan ada saatnya kita harus kembali berada di samping mereka. Memberikan apa yang bisa kita beri dan mempersembahkan apa yang bisa kita persembahkan. Semua yang terbaik untuk mereka.

 

Karena kita yakin, pintu surga paling tengah adalah orang tua kita.

Janganlah sia-siakan mereka.

Raihlah dan jagalah.

Orang tua, ialah kata yang paling menggetarkan hati setiap anak.

 

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi: dakwatuna.com

32 Cara Menghormati Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu amal shalih yang disebut berkali-kali di dalam al-Qur’an, bahkan amal ini sering disandingkan dengan perintah untuk menyembah Allah dan larangan mempersekutukan-Nya.

 

Allah SWT berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (An Nisa: 36).

 

Rasulullah juga mengisyaratkan betapa mulianya amalan ini dengan mengutamakan bakti kepada orang tua atas jihad fi sabilillah.

 

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’” (HR. Al Bukhori no. 5970) [2]

 

Lalu, bagaimanakah kita dapat mengekspresikan amalan ini dalam kehidupan sehari-hari? Simak 32 cara menghormati orang tua berikut ini. Semoga dapat menjadi inspirasi dan motivasi agar kita dapat mengamalkannya di sepanjang waktu. InsyaaAllah

 

  1. Berinteraksilah dengan sebaik-baik etika dan sopan santun. Jangan mengatakan pada beliau berdua ungkapan kesal meskipun hanya semisal Berbicaralah dengan kata-kata yang baik lagi lembut kepada mereka.
  2. Patuhilah orang tua selalu, kecuali bila mereka memerintahkan sesuatu yang berdosa, sebab kepatuhan kepada Allah tetaplah yang harus diutamakan.
  3. Bersikaplah baik kepada orang tua. Jangan cemberut atau menatap dengan amarah.
  4. Jagalah nama baik, kehormatan, dan kepemilikan mereka. Jangan mengambil sesuatu apapun tanpa izin beliau berdua.
  5. Lakukan hal-hal yang membuat orang tua terbantu meskipun tanpa beliau minta, seperti membantu mencuci piring, membelikan kebutuhan sehari-hari, dll.
  6. Mintalah saran dari orang tua dalam berbagai urusan dan mintalah maaf bila karena satu atau dua hal lain kau kurang menyetujui saran atau pendapat yang mereka sampaikan.
  7. Balas dan jawab sesegera mungkin dengan senyuman di wajah saat mereka memanggil.
  8. Hormati keluarga dan teman-teman orang tua, baik saat mereka masih hidup dan setelah mereka telah wafat.
  9. Jangan berdebat dengan beliau. Bila orang tua melakukan sesuatu hal yang kurang tepat, sampaikanlah hal yang benar dengan cara yang baik dan santun
  10. Jangan bersikap keras kepala dan mengangkat suara pada orang tua. Dengarkan ucapan mereka dan berperilakulah dengan baik dan santun. Jangan mengganggu saudaramu untuk menghormati mereka (karena hal itu sering kali akan mengganggu mereka juga).
  11. Berikanlah penghormatan yang pantas, seperti berdiri saat beliau memasuki ruangan, mencium tangan atau dahi mereka.
  12. Bantu pekerjaan ibu di rumah dan tawarkan bantuan saat melihat ayah sedang bekerja.
  13. Jangan nekat pergi jika mereka tidak memberikan izin meskipun itu untuk sesuatu yang penting. Tetapi jika kau memang tetap harus pergi, minta maaf dan jelaskan kepada mereka dengan baik sebelum berangkat.
  14. Jangan masuk ke kamar mereka tanpa izin, terutama saat tidur dan beristirahat.
  15. Jika merokok, janganlah kau lakukan di hadapan beliau berdua
  16. Jangan mengambil makanan atau minuman sebelum mereka.
  17. Jangan berbohong kepada beliau berdua.
  18. Jangan lebih mengutamakan istri atau anak atas orang tua, sebaliknya, cobalah untuk menyenangkan mereka sebelum orang lain karena “keridhaan Allah dalam keridhaan orang tua dan kemarahan Allah ada dalam kemarahan orang tua.”
  19. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi.
  20. Jangan sombong dengan apa yang dimiliki oleh orang tua.
  21. Jangan pelit membelanjakan sesuatu hal untuk beliau berdua.
  22. Sesering mungkin, kunjungilah beliau berdua dan berliah mereka hadiah. Berterima kasihlah karena beliau berdua telah membersarkanmu.
  23. Orang yang paling layak mendapat kehormatan darimu adalah ibumu, lalu ayahmu.
  24. Jangan sampai kau tidak bersyukur kepada mereka dan berhati-hatilah dengan kemarahan mereka karena itu akan membawa ketidakbahagiaan dalam kehidupan ini dan akhirat. Anak-anakmu berpeluang besar untuk memperlakukanmu seperti bagaimana kau memperlakukan orang tuamu.
  25. Jika menginginkan sesuatu dari orang tua, berbaiklah kepada mereka dan berterima kasihlah kepada mereka karena telah memberikannya kepadamu. Jika mereka menolak,, maka maafkan mereka. Jangan terus-menerus menanyakan hal-hal kepada mereka karena itu bisa mengganggu mereka.
  26. Ketika kau mampu mencari nafkah, maka bekerjalah dan bantu orang tuamu.
  27. Orang tua dan pasangamu kelak memiliki hak padamu, sehingga penuhilah hak-hak mereka dan cobalah untuk mendamaikan mereka ketika mereka tidak sependapat.
  28. Jika orang tuamu berdebat dengan pasanganmu, maka bersikaplah dengan bijak dan cobalah untuk memahamkan pada pasanganmu bahwa kau akan berada di sisinya jika dia benar dan [pada saat yang sama] kau juga diperintahkan untuk membuat ridha orang tua.
  29. Jika kau tidak setuju dengan orang tuamu sehubungan dengan pernikahan atau jalan lain dalam hidup, maka carilah penilaian melalui hukum Islam karena itu adalah bantuan terbaik untukmu.
  30. Doa orang tuamu adalah mustajab, baik maupun buruk. Jadi waspadalah terhadap permohonan mereka terhadapmu.
  31. Bersikap baiklah kepada orang lain untuk menghindari dicemoohnya orang tua kita karena misal kita mencemooh orang tua mereka.
  32. Kunjungilah mereka saat hidup bahkan setelah wafat, yakni mengunjungi makam mereka. Berikanlah sedekah atas nama mereka dan mohonkan ampunan atas mereka. “Ya Tuhanku ampunilah orang tua saya”, “Ya Tuhanku, kasihanilah mereka berdua karena mereka membawa saya ketika saya masih kecil ”, dll.

 

Pembuka dari artikel ini disesuaikan dari artikel Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?, diakses di https://muslim.or.id/382-bakti-pada-orang-tua.html

Berbakti kepada Orang Tua Setelah Mereka Wafat [1]

Berbakti kepada orang tua adalah amalan yang tidak berbatas waktu dan tempat. Lalu, bagaimanakah cara berbakti pada orang tua ketika mereka telah meninggal dunia atau tiada? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Rasulullah pada 1400 abad yang lalu.

 

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata, “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Pada hadits ini, kita dapat menggaris bawahi beberapa hal yang dapat kita laukukan sebagai wujud bakti kita kepada orang tua yang telah wafat, diantaranya adalah:

  1. Mendo’akan kedua orang tua dan meminta ampun untuk kedua orang tua, diantaranya melalui doa yang Allah ajarkan dalam al Quran: “Wahai, Rabb-ku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil” (al Isra: 24)
  2. Memenuhi janji dan atau tanggungan mereka
  3. Menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya. Hal ini juga diisyaratkan lewat sabda Rasulullah yang lain, “Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

 

Selain ketiga hal tersebut, pada hadits lain juga disebutkan bahwa bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada adalah salah satu amalan yang dapat bernilai bakti kepada orang tua.

 

“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

 

Namun Saudaraku, selama beliau masih hidup, itulah kesempatan kita terbaik untuk berbakti pada orang tua. Karena berbakti pada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk mengamalkannya.

 

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).