FULDFK 2014

“Menjadikan profesionalitas kinerja FULDFK 2013/2014 sebagai kekuatan dalam membangun
ukhuwah LDFK se-Indonesia untuk memperjuangkan Islam demi kemaslahatan umat
yang berbasis kompetensi kesehatan.”
- Visi FULDFK 2014


Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia (FULDFK) adalah wadah berkumpulnya seluruh Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran se-Indonesia yang didirikan pada tanggal 4 Muharram 1426 H atau 13 Januari 2005 di Jatinangor, Jawa Barat. Organisasi ini lahir pada saat diselenggarakannya Musyawarah Nasional I dan Deklarasi FULDFK 10-13 Februari 2005, yang dihadiri oleh 109 delegasi yang berasal dari 29 Fakultas Kedokteran se-Indonesia.

FULDFK bersasaskan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan visi untuk memperjuangkan Islam demi kemaslahatan ummat yang berbasis pada kompetensi kesehatan. Memiliki struktur kepengurusan yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan memiliki 6 departemen di tingkat pusat dan 4 wilayah kerja yang memiliki kepengurusan pada setiap Fakultas Kedokteran. Kepengurusan saat ini adalah kepengurusan 2013-2014 yang diresmikan di Rakernas 2014 Yogyakarta.

FULDFK2014 - Copy (2)

FULDFK memiliki pembagian struktur eksekutif, yaitu Dewan Eksekutif Pusat dan Dewan Eksekutif Wilayah. Saat ini FULDFK memiliki 4 DEW yaitu (1) DEW I meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatra, (2) DEW II meliputi Sulawesi, Bali, Maluku, dan Irian Barat, (3) DEW III meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, dan (4) DEW IV meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Perombakan DEW yang semula terdapat 5 wilayah menjadi 4 wilayah adalah berdasarkan rekomendasi MUNAS VIII Padang dan yang kemudian ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan DEP FULDFK 2012-2013.

Terdapat 58 pengurus di dalam struktur DEP FULDFK 2014, yang terdiri dari jajaran Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum, Departemen Finansial, Departemen Kemuslimahan, Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi (KKIA), Departemen Pengembangan LDFK dan Kaderisasi (P&K), Departemen Hubungan Masyarakat (HUMAS), Departemen Informasi dan Teknologi (IT). Selain itu, di dalam DEW I terdapat 86 pengurus, DEW II terdapat 44 pengurus, DEW III terdapat 73 pengurus, dan di dalam DEW IV terdapat 36 pengurus. Sehingga total jumlah pengurus DEW di seluruh wilayah adalah sejumlah 239 pengurus.

Projects

Blog

Ramadhan 1435 H

10516771_771753609526013_3840628524459342160_n

Dalam rangka membersihkan diri dan mensucikan Hati, memasuki romadhon,maka ada nasehat dari Imam Syafi’i sebagai berikut :

“Dasar ilmu adalah kemantapan dan buahnya adalah keselamatan. Dasar Wara’ (menjaga diri dari sesuatu yg meragukan) adalah Qona’ah (menerima karunia Alloh dengan dada yg lapang) dan buahnya adalah ketenangan batin. Dasar Kesabaran adalah keteguhan hati dan buahnya adalah kemenangan. Dasar suatu Aktifitas adalah Taufiq (pertolongan Alloh) dan buahnya adalah kesuksesan. Dasar Tujuan akhir dari segala Perkara adalah Shidiq (benar).”

Mohon maaf jika ada kesalahan kata, pemikiran dan perbuatan. Semoga di bulan romadhon ini kita meraih ketaqwaan,amal ibadah kita diterima Allah Swt. Amiin.

Segenap Keluarga Besar FULDFK 2014 mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1435 H.

ADVOCLASSY

Bismillaah..
Assalamu’alaykum wr wb.

Bingung mau habisin waktu jelang berbuka?
Pengen ngerasain ngabuburit bermanfaat bareng sahabat-sahabat dari seluruh penjuru Indonesia?

Yuk gabung!
Di “ADVOCLASSY”~
Kelas seru buat ngebahas seluk beluk Advokasi.

—————-

Kelas I
‘Selayang Pandang Advokasi’
Oleh Muhammad Haydar, S.Ked

Minggu, 6 Juli 2014
Pukul 15.30 WIB
Via Call Conferrence Skype

TERBUKA UNTUK UMUM!!!

Syarat dan Cara Pendafataran:
1. Punya acc skype
2. Add acc: Alliffabri
3. Konfirmasi dengan mengirimkan sms ke ….. (Alif) dengan format: advoclassy1_nama_acc skype_no hp_email
4. Mengikuti tata tertib kelas Advoclassy*

Pendaftaran hingga Minggu, 6 Juli 2014 pukul 11.00 WIB

Requirements:
1. Koneksi internet yang stabil dan memadai
2. Headset/handsfree plus microphone yang kece
3. Keingintahuan dan kemauan kuat untuk belajar mengenai advokasi

Presented by KKIA DEP FULDFK Indonesia

*keterangan lengkap menyusul

Lomba FULDFK, “The Quran”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

Sungguh telah datang pada kalian bulan dengan membawa berkah, rahmat, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah ta’ala. Hari-harinya adalah hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Di dalamnya dibuka semua pintu-pintu kebaikan dan keberkahan. itulah Ramadhan bulan yang mulia. Bulan dimana Allah ta’ala melipatgandakan pahala setiap amal yang dilakukan hamba-Nya.
—————————————————————————————————————————————————————–Dengan mengharap ridha Allah ta’ala, dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan 1435 H, FULDFK menggelar lomba penulisan puisi, cerpen, essay, dan poster.

 

KETENTUAN UMUM LOMBA

 

  1. Lomba ini terbuka untuk semua mahasiswa/i muslim/ah (klinik maupun preklinik) fakultas kedokteran dari seluruh Indonesia.
  2. Lomba dibuka pada tanggal 1 Juli 2014 dan ditutup pada tanggal 22 Juli 2014 pukul 24.00.
  3. Tema tulisan: The Qur’an (Take Highest Quality Ramadhan)
  4. Judul bebas, tetapi mengacu pada tema pada butir 3.
  5. Setiap peserta boleh mengikuti dua cabang lomba sekaligus.
  6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar serta indah (literer). Bahasa daerah, bahasa prokem, bahasa gaul boleh digunakan untuk dialog (bukan narasi).
  7. Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
  8. Setiap peserta diwajibkan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp15.000
  9. Program paket : Satu LDFK mengirimkan empat buah karya hanya dikenakan biaya pendaftaran Rp50.000
  10. Setiap karya harus disertai dengan biodata singkat pengarang.
  11. Peserta juga harus melampirkan fotokopi KTM dan bukti pembayaran masing-masing dalam bentuk scan.
  12. Hasil karya dan lampiran dimasukkan dalam satu folder dengan ketentuan nama folder: (Cabang lomba_Nama_Universitas).
  13. Folder dikirim ke email panitia, yaitu humasdepfuldfk@yahoo.com
  14. Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 12 Agustus 2014 viawww.medicalzone.org dan akun FB FULDFK.
  15. Akan diambil tiga peserta terbaik pada setiap cabang lomba yang nanti akan mendapatkan sertifikat dan dana bimbingan.
  16. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat.
  17. Karya yang masuk kotak email panitia menjadi milik panitia dengan hak cipta penulisnya.

KETENTUAN NASKAH PUISI

  1. Naskah diketik pada lembar kertas berukuran A4 dengan jarak spasi 1,5; huruf Times New Roman ukuran 12;
  2. Karya disimpan dalam bentuk .doc atau .docx atau .pdf dengan ketentuan nama:
  3. (Kategori lomba_Nama_Universitas)
  4. Panjang tidak dibatasi.

 

KETENTUAN NASKAH CERPEN DAN ESAI

  1. Naskah diketik pada lembar kertas berukuran A4 dengan jarak spasi 1,5; huruf Times New Roman 12; margin 3 cm
  2. Panjang naskah 3 – 6 halaman.
  3. Naskah tidak mengandung unsur SARA maupun hal-hal yang bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan.

 

KETENTUAN POSTER

  1. Jenis poster yang dilombakan adalah poster publik.
  2. Desain dibuat menarik dan berwarna dengan jumlah warna bebas.
  3. Tidak diperkenankan terdapat tempelan-tempelan kertas atau sejenisnya pada karya poster tsb.
  4. Poster diberi judul sesuai dengan tema.
  5. Karya poster tidak mengandung unsur SARA maupun hal-hal yang bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan.maupun norma yang berlaku
  6. Poster belum pernah diterbitkan dalm kompetisi apapun lainnya atau yang telah diterbitkan.
  7. Desain poster menggunakan aplikasi umum (misal Coreldraw, Adobe Photoshop, dsb).
  8. Karya disimpan dalam bentuk jpg.

=========================================================================================

Let’s join us and get the best quality Ramadhan insyaallah.

Pengiriman pendaftaran ke BNI Syariah dengan No. Rek. 0333503369 a.n. Risqon Nafiah QQ FULDFK

Sayap Dakwah

Mengembangkan Sayap Dakwah Kedokteran

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba` : 28)

Alhamdulillahirobbil’alamin.. Terhitung saat ini ada sebanyak 43 LDFK berbagai universitas di Indonesia baik negeri atau swasta yang bergabung sebagai anggota FULDFK. LDFK, sebagai lembaga dakwah formal di berbagai fakultas kedokteran di Indonesia, merupakan pengusung terdepan kegiatan dakwah yang berbasis akademis dan profesi kedokteran. Dengan semakin maraknya lembaga dakwah kedokteran maka tuntutan untuk meningkatkan profesionalisme lembaga pun semakin meningkat. Hal ini memang telah menjadi sebuah keharusan sekaligus menjadi sebuah syarat mutlak untuk menjadikan dakwah fakultas maju, berkualitas, dan terdepan dalam mengemban visi dan misi dakwah.

 Berbicara mengenai kualitas lembaga dakwah mau tak mau membuat kita juga berbicara mengenai sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Untuk menghasilkan kader tenaga medis muslim terbaik maka dibutuhkan berbagai persiapan yang maksimal, agar kelak para kader tersebut mampu menjalankan profesinya secara optimal. Persiapan tersebut sudah seharusnya dimulai sejak di bangku kuliah, dengan harapan nantinya ketika memasuki dunia kerja para calon dokter ini tidak hanya mengedepankan ilmu pengetahuan umum tetapi juga diimbangi dengan ilmu pengetahuan yang berbasis Islam.

 Sekarang mari kita melihat realita yang ada saat ini. Jika kita menghitung berapa jumlah mahasiswa kedokteran yang masih peduli atau hadir dalam diskusi masalah kepentingan rakyat, mungkin jari dua tangan masih tersisa untuk menghitungnya, dengan alasan mereka disibukkan dengan jadwal kuliah, praktikum, belajar, tugas laporan dan sebagainya. Berapa banyak dari mereka yang masih ngeh dengan isu-isu nasional? Bahkan mungkin ketika ditanya pendapat mereka tentang permasalahan-permasalahan kesehatan di Indonesia, masih ada juga yang bersikap tidak tahu ataupun malah tidak mau tahu. Terkesan bahwa mahasiswa kedokteran memiliki analisis yang tumpul terhadap polemik dan dinamisasi kebijakan-kebijakan kesehatan atau bersikap apatis terhadap keadaan sekitar.

 Apa yang terjadi dengan mahasiswa kedokteran tersebut seolah-olah menjadi bukti adanya degradasi nilai idealisme serta peran mahasiswa kedokteran. Mereka lupa bahwa sejatinya Fakultas kedokteran adalah bengkel pencetak calon-calon dokter yang dipersiapkan khusus untuk mengabdi pada bangsanya.

 Dengan melihat kondisi yang ada, kiranya hal ini bisa menjadi trigger bagi aktivis lembaga dakwah kedokteran khususnya, dan mahasiswa kedokteran pada umumnya untuk berbenah diri agar tidak termasuk dalam kategori mahasiswa apatis. Sudah sepantasnya kita berupaya untuk mengembalikan dan mencegah pergeseran nilai idealisme mahasiswa dengan harapan dapat mengembalikan peran serta fungsi mahasiswa kedokteran sebagai sentra pergerakan mahasiswa yang peduli dan mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Mari kita ubah stigma-stigma yang muncul atas diri mahasiswa kedokteran yang dikatakan bersifat apatis, egois, ekslusif, sukar bergaul, study oriented dan introvert menjadi mahasiswa kritis, berfikir idealis, cerdas, berkarakter pejuang, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash Shaff : 4)

Dengan bergabungnya berbagai lembaga dakwah fakultas kedokteran di Indonesia dalam Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran se-Indonesia diharapkan dapat menjadi sebuah titik awal yang nantinya akan menuntun perjalanan dakwah sehingga dapat berjalan sinergis dan profesional. Jangan sampai apatisme ini meruntuhkan idealisme mahasiswa kedokteran yang dulu dipandang memiliki idealisme tinggi dan nyaris sempurna. Tentunya kita tidak boleh hanya membanggakan sejarah saja, tetapi bagaimana kita bisa melanjutkan prestasi yang sempat ditorehkan tersebut sehingga kita bisa mengembalikan nilai idealisme mahasiswa kedokteran serta peranannya sebagai sentra pergerakan mahasiswa prorakyat.

 Tak hanya itu, kedepannya juga diharapkan adanya optimalisasi setiap lembaga dakwah fakultas dalam beraktivitas dan berkreativitas. Saatnya kita membuktikan bahwa kita bisa mengembalikan idealisme yang dulu membuat mahasiswa kedokteran sempat menjadi yang terdepan. Menyusunnya kembali sebagai pelindung moral, menyatukannya menjadi kekuatan besar dan mengembalikan citra mahasiswa kedokteran yang beridealisme serta berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga nantinya pergerakan mahasiswa kedokteran kembali menjadi sentra pergerakan mahasiswa yang benar-benar memperjuangkan kepentingan ummat. Allahumma aamiin..

Ditulis oleh :

Annisa Fitriani,

Staff DEP-KKIA FULDFK

Memuliakan Ilmu

BAGAIMANA CARA KITA MEMULIAKAN ILMU?

Kedudukan seorang manusia terhadap ilmu dilihat dari seberapa besar ia menghargai/ memuliakan ilmu tersebut. Apabila hatinya penuh dengan pengagungan terhadap ilmu, maka ia yang pantas untuk mendapatkan ilmu. Begitupun sebaliknya, jika kadar pengagungan terhadap ilmu berkurang, maka berkuranglah kedudukan hamba tersebut atas ilmu.

Barangsiapa yang benar-benar memuliakan ilmu, maka ia akan mendapatkan cahaya ilmu tersebut. Dan pada akhirnya, ia akan bisa memahami ilmu karena cahaya yang diperoleh dari ilmu tersebut dan ia pun akan mendapatkan tujuan mulia dari ilmu tersebut. Sebagai seorang yang bergelut dengan dunia ilmu, maka tidaklah hatinya mendapatkan kelezatan kecuali dengan terus memikirkan ilmu.

Diantara hal yang dapat mengantarkan seseorang dalam memuliakan ilmu, yaitu dengan cara mengenal poin-poin penting dalam memuliakan ilmu, sehingga ia bisa memuliakan ilmu dalam hatinya.
Barangsiapa yang tidak memenuhi cara memuliakan ilmu dengan benar, maka ia benar-benar lalai dari ilmu. Sebagai akibatnya, nanti ia akan tunduk pada hawa nafsunya.

Barangsiapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu itu tidak akan memuliakannya.

Bagaimana cara memuliakan ilmu?

Membersihkan wadah yang menampung ilmu (qolbu)

Barangsiapa yang ingin memperoleh ilmu, maka sebaiknya ia membersihkan hatinya. Sebab, bersihnya hati berhubungan dengan mudahnya menerima ilmu. Semakin bersih hati seseorang, maka ilmu akan mudah diterima. Begitupun sebaliknya, semakin kotor hati seseorang, maka ilmu akan susah memasukinya.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya ia harus membersihkan hati dari najis atau kotoran. Hal ini dikarenakan ilmu itu ibarat permata nan lembut, yang tidaklah pantas kecuali disimpan di tempat yang bersih.

Adapun kotoran hati antara lain : sifat dendam, dosa, dan kesalahan. Untuk membersihkannya, diperlukan beberapa hal berikut ini :

  1. Membersihkan hati dari kotoran syubhat (ilmu syubhat)
  2. Membersihkan hati dari kotoran syahwat (maksiat secara umum)

“Haram bagi hati masuknya cahaya ilmu. Dimana dalam hati tersebut terdapat sesuatu yang tidak Allah sukai.”

Niat yang Ikhlas ketika mencari ilmu

Amalan seseorang akan diterima apabila dibangun diatas keikhlasan kepada RabbNya. Selain itu, dalam masalah ilmu (terutama ilmu syariat), seseorang akan mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar ikhlas yang ada pada dirinya. Karena semakin kuat ikhlas tertanam dalam hati, maka semakin mudah pula ia memperoleh ilmu.

Seseorang dikatakan ikhlas dalam menuntut ilmu, jika memenuhi 4 hal berikut :

  1. Ilmu tersebut dapat mengangkat kebodohan dari dalam dirinya
  2. Ilmu tersebut mampu menghilangkan kebodohan dalam diri orang lain, dengan cara mengajarkannya kepada mereka
  3. Menghidupkan ilmu dan menjaga agar ilmu itu tidak hilang
  4. Mengamalkan ilmu

Semangat ketika mempelajari ilmu
Seseorang bisa mengumpulkan semangat dalam belajar, jika ia mengumpulkan dalam dirinya 3 hal :

  1. Bersemangat dalam hal yang bermanfaat
  2. Meminta tolong kepada Allah dengan cara berdoa
  3. Jangan patah semangat untuk mencapai ilmu tersebut

Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, maka ia akan mendapatkannya. Apabila ia tidak bisa mendapatkan ilmu itu secara keseluruhan, maka ia akan mendapatkan sebagian.

“Jika semangat itu muncul, ketika malam yang gelap gulita, dan ketika itu bulan mengikutinya. Maka nantinya bumi akan terbit dengan sinar dari Allah Ta’ala.” Begitu perumpamaan yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim berkenaan dengan semangat seseorang dalam menuntut ilmu dan pertolongan dari Allah Ta’ala.

Seseorang bisa memiliki semangat yang tinggi dalam belajar, dengan cara mempelajari kisah-kisah para ulama di masa silam. Dan semangat yang benar tidak akan pernah pudar/ keropos walaupun usianya sudah tua. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat dan ulama masa silam, yang mana mereka senantiasa belajar dan mununtut ilmu meskipun usia telah menginjka senja

Pergunakan semangat yang tinggi untuk perhatian/ mempelajari Al Quran dan Sunnah

Segala ilmu itu kembalinya pada Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun ilmu yang lainnya itu diambil atasnya, atau merupakan ilmu yang lain atas keduanya dan tidak menjadi masalah jika tidak mempelajarinya.
“Ilmu itu kembali pada dua ilmu pokok. Apabila ia tidak merujuk padanya, maka bisa jadi ia tersesat di jalan yang rusak/ terpotong.”

Meniti jalan semangat untuk bisa meraih ilmu yang manfaat (Al-Quran dan As-Sunnah)

Barangsiapa yang menempuh jalan yang benar, maka ia akan mencapai ilmu tersebut. Namun apabila ia menempuh jalan yang tidak tepat, maka ia tidak akan mencapainya. Adapun ketika ia mendapatkannya, maka perlu waktu yang lebih lama.
Maka setiap orang itu hendaknya ia mengambil di setiap cabang ilmu melalui cara (metode) terbaik atasnya, yaitu dengan cara :

  1. Menghafal matan-matan yang pokok (ringkas dan syarat makna dari kitab-kitab pokok pada masing-masing cabang ilmu). Hal ini dikarenakan seseorang mustahil mampu meraih ilmu tanpa menghafalkannya.
  2. Belajar dari guru (ahli dalam cabang ilmu tersebut, pantas diikuti, dan bagus dalam cara mengajar). Dengan ini maka akan bisa memperoleh kekuatan dalam ilmu tersebut.”

Perhatian terhadap cabang-cabang ilmu yang diambil

Setiap cabang ilmu hendaknya diambil dan diperhatikannya. Sehingga, tidaklah pantas seorang penuntut ilmu meninggalkan ilmu yang manfaat dan tidaklah pantas ia mencela ilmu akibat tidak mengetahuinya.

Seseorang akan mendapatkan ilmu manfaat,  jika berpatokan pada 2 masalah pokok :

  1. Mendahulukan hal yang paling penting, kemudian kepada hal penting lainnya. Diantaranya : seseorang butuh agar bisa beribadah kepada Allah dengan benar, maka ia harus mempelajari tentang : apa itu ibadah, kepada siapa ia beribadah, dan bagaimana ia beribadah agar sah dan diterima.
  2. Mempelajari dari yang ringkas-ringkas terlebih dahulu, sampai nanti sempurnalah ilmu yang manfaat yang dimiliki.

Kemudian lanjutkan dengan mempelajari dengan ilmu-ilmu yang disukai, hingga bisa mempelajari secara luas cabang ilmu tersebut.
Namun apabila ia mampu untuk mempelajari banyak ilmu, maka sebaiknya ia mempelajarinya sekaligus

Bersegera untuk meraih ilmu tersebut

Hendaklah ia memulai belajar dari usia anak-anak atau usia muda dan bersungguh-sungguh pada masa itu. Karena ilmu yang lebih mudah melekat dan menancap ketika usia muda.

“Kuatnya ilmu ketika kecil itu seperti memahat diatas batu.”

“Barangsiapa yang benar-benar perhatian pada masa mudanya, maka ia akan mendapatkan keberuntungan, dan di masa senja ia akan dipuji.”

Namun tidak berarti seseorang yang berusia senja tidak lagi belajar, karena dahulu para sahabat baru mulai belajar ketika usia senja. Termasuk juga para ulama ada beberapa yang baru mulai belajar ketika sudah masuk usia senja.
Hanya saja ketika usia tua itu banyak kesibukan, banyak penghalang, dan banyak hubungan-hubungan dengan yang lain. Namun barangsiapa yang mampu menghilangkan penghalang (diatas), maka ia akan bisa meraih ilmu.

Jangan tergesa-gesa
Salah satu hal penting dalam menuntut ilmu adalah bersabar dan tidak tergesa-gesa dalam menuntut ilmu. Karena ilmu tidak mungkin bisa datang dalam satu waktu, sebab hati itu begitu lemah. Sebagaimana beratnya batu ketika seseorang memikulnya.

Sehingga, harus melalui proses yang bertahap dan pelan-pelan. Itulah sebabnya pula Al-Quran diturunkan secara bertahap.
Mulailah belajar dari kitab matan yang ringkas dari masing-masing ilmu, kemudian hafalkan dan selesaikan sampai tuntas. Baru beranjak pada ilmu-ilmu yang lebih luas (mendetail) dalam membahas sesuatu.

“Ada sesuatu hal, yang bisa jadi makanan di masa bagi orang dewasa namun menjadi racun bagi anak-anak.”

Sabar dalam ilmu (Ketika belajar dan mengajarkannya)
Setiap perkara-perkara yang mulia tidak mungkin dicapai dengan sabar. Dan sesuatu yang paling sulit untuk diambil adalah sesuatu yang paling tinggi ketika dicari. Oleh karena itu, membutuhkan kesabaran dalam menggapainya.

Begitu pula dengan ilmu, tidak akan bisa dicapai tanpa kesabaran atau dengan cara bersantai-santai. Maka dengan bersabar, hilanglah noda kebodohan. Hingga dengannya seseorang bisa mendapatkan lezatnya ilmu.

Sabar dalam ilmu terbagi dalam 2 hal, yaitu :

  1. Sabar ketika mengambil ilmu (mempelajarinya). Dalam mengahafalkan dan  memahami ilmu, menghadiri majelis ilmu, serta memperhatikan hak-hak gurunya.
  2. Sabar ketika menyampaikan ilmu kepada orang lain. Dalam mengajari, memahamkan, dan memaafkan jika ada muridnya yang melakukan kesalahan.

Dan diatas kedua kesabaran tersebut ada kesabaran, yaitu sabar diatas kesabaran. (Istiqomah diatas kesabaran).

Memperhatikan adab-adab dalam belajar
Adab seseorang itu tanda ia menggapai bahagia dan keberuntungan, dan kurangnya adab merupakan tanda ia menuai kesengsaraan atau kerugian. Maka, barangsiapa ingin memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat maka hendaklah ia meraihnya dengan melakukan adab. Dan seseorang bisa jadi diharamkan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat lantaran kurangnya adab.

Dalam memuliakan ilmu, beberapa adab yang harus dijaga, antara lain :

  1. Adab atas dirinya
  2. Adab atas apa yg ia pelajari
  3. Adab ketika berhadapan dengan gurunya
  4. Adab ketika bersama dengan teman-temannya

Dengan seseorang itu beradab, maka ia akan paham ilmu. Karena orang yang mempelajari adab ia terlihat pantas untuk mendapatkan ilmu, maka ia akan mudah mendapatkannya. Sebaliknya, orang yang kurang memiliki adab, seperti orang yang menyia-nyiakan ilmu begitu saja.

Imam Malik pernah menceritakan, ibuku dahulu ketika memakaikan imamah (seperti songkok) kepadaku, ketika itu beliau mengatakan. Pergilah engkau kepada Rabiah (ibnu Abdirrahman), maka pelajarilah tentang adab-adabnya dari rabiah sebelum engkau mengambil ilmu darinya.

Menjaga ilmu dari hal-hal yang memburukkannya (Yaitu yang menyelisihi muruah (kehormatan) dan mencacatinya)

“Barangsiapa tidak menjaga ilmu, maka ilmu itu juga tidak akan menjaganya.”
“Barangsiapa yang telah mecacati kehormatannya (dengan melakukan hal-hal buruk), maka sama saja ia telah merendahkan ilmu.”
“Barangsiapa tidak memuliakan ilmu dan sibuk dengan hal-hal yang sia-sia, maka ilmu itu akan bisa hilang dari dirinya.” (Imam Syafii)

Adapun yang termasuk Muruah, menurut Abi Muhammad Sufyan bin Uzainah-al Araf- adalah sebagai berikut :

  1. Rajinlah memberi maaf
  2. Perintahkanlah pada kebajikan
  3. Tinggalkanlah kelakuan orang-orang yang bodoh

Yang harus ada dalam penuntut ilmu adalah berhias diri dengan muruah yang baik dan menjauh dari hal-hal yang merusak muruah. Diantara hal-hal yang dapat merusak muruah antara lain :

  1. Mencukur jenggot
  2. Rajin banyak memandang di jalan
  3. Suka jalan-jalan di tempat kumpulannya orang tanpa ada sifat dhorurat.
  4. Bersahabat dengan orang-orang fasik, suka menganggur
  5. Biasa bergelut (berdebat) dalam pembicaraan dengan orang-orang yang bodoh

Memilih berteman dengan sahabat yang sholeh yang dapat memberikan kebaikan kepadanya
Memiliki teman yang sholeh merupakan kebutuhan primer/ dhoruroh. Karena setiap penuntut ilmu hendaknya memiliki teman penunut ilmu juga. Sehingga, dengan berteman semacam itu maka akan mudah baginya dalam mencari ilmu.

Seseorang bisa mencapai maksud yang tinggi apabila ia memilih sahabat baik yang bisa menolongnya dalam mendapatkan ilmu tersebut. Karena setiap teman itu akan memberi pengaruh. Sebagaimana dalam hadist riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, “Seseorang itu tergantung dari teman karibnya. Maka lihatlah seseorang itu kepada siapa yang ia temani.”
Bagaimana cara memilih teman dekat?

Berikut ini adalah kriteria teman yang bisa dijadikan sebagai teman karib seorang penuntut ilmu :

  1. Memiliki fadhilah, keutamaan (terutama dalam ilmu)
  2. Memiliki manfaat
  3. Memiliki kenikmatan ketika berteman dengannya.
  4. Maka pilihlah teman yang memiliki keutamaan. Maka engkau sendiri akan dikenal orang yang memiliki keutamaan.

Ibnu Mani’ pernah memberikan wasiat, ”Waspadalah bergaul dengan orang-orang bodoh dan orang-orang yang sukanya ngelawak dan orang-orang yang berwatak keras, dan orang-orang yg punya perangai yang jelek, orang-orang yang bodoh, karena bergaul dengannya menjadikan seseorang sulit mendapatkan ilmu dan mendapatkan kesengsaraan.”

Mencurahkan kesungguhan (menghafal ilmu, saling mengingat ilmu dengan teman dekatnya, bertanya kepada orang yang berilmu)
Seseorang yang berguru kepada seorang guru tidaklah manfaat sampai terpenuhi beberapa hal berikut ini :
ia menghafal ilmu tersebut
saling mengingat (belajar bersama) dengan teman dekatnya
bertanya kepada orang yang berilmu.
“Kami itu pernah hafal itu sedikit namun membaca itu banyak. Ternyata apa yang kami peroleh dengan menghafal yg sedikit itu lebih banyak daripada membaca yang bayak.”
(Syaikh Utsaimin)
Dengan mudzakarah (diulang bersama teman), maka ilmu akan tetap ada, dan semakin tertanam kuat.
“Yang namanya shohibul quran., itu seperti unta yang akan diikat. Jika unta itu diikat, maka unta itu benar-benar tidak akan kabur. Jika tidak diikat, maka ia akan pergi.” (HR. Bukhori Muslim)
Dengan banyak bertanya, maka akan memuka perbendaharaan ilmu. Bagusnya pertanyaan itu adalah setengah ilmu. Sebagaimana masail (pertanyaan) Imam Ahmad yang menjadi kitab Burhanun Jalil, yang kemudian bisa bermanfaat secara luas.
“Yang namanya pohon, pastilah berasal dari biji yang ditanam. Kemudian biji itu disiram dan tumbuh, sehingga kuat dan terhindar dari berbagai penyakit.”
“Menghafal itu seperti ilmu yang ditanam, dan mudzakarah sebagai penyiram tanaman sehingga menjadi subur, sedangkan banyak bertanya lah yang akan menumbuhkan ilmu.”

Hendaklah ahli ilmu itu dihormati dan diberi tempat istimewa bagi mereka (para penuntut ilmu)
Ulama itu memiliki kedudukan yang tinggi, karena mereka adalah aba’u ruh, bapaknya ilmu. Maka menghormati orang yang berilmu itu merupakan suatu kewajiban.
Sebuah hadist dari Ibadah bin shamit, “bukanlah termasuk dari golonganku, orang yang tidak menghormati yang lebih tua darinya, tidak menyayangi yang lebih muda darinya, dan tidak mau mengenal/menghormati siapa alimnya (tidak mau memperhatikan hak ulama).”
Adapun adab-adab dihadapan ulama, antara lain :

  1. Tawadhu dihadapannya
  2. Duduk dihadapannya
  3. Ketika belajar jangan menoleh sana-sini.
  4. Memperhatikan adab hadist ketika berbicara kepada ulama
  5. Ketika sedang bercakap dengan ulama, ia menghormatinya tanpa bersifat ghuluw (berlebihan). Memposisikan ulama itu sebagaimana posisinya.
  6. Bersyukur sudah diajari
  7. Mendoakan kebaikan kepada ulama tersebut
  8. Jangan nampak bahwa ia sudah cukup dengan guru tersebut (tidak peduli dengan guru lain)
  9. Jangan menyakiti gurunya dengan perbuatan ataupun perkataan
  10. Kalau mengingatkan dengan cara lemah lembut

Ada kalanya, seorang ulama bisa jadi mengalami kesalahan atas suatu perkara. Sebagai seorang penuntut ilmu, bagaimana seseorang menyikapi ketergelinciran para ulama?

  1. Perlu tastabbut (crosscek) tentang ketergelinciran tersebut.
  2. Perlu crosscek apakah hal tersebut benar sebuah kesalahan, karena ia adalah ulama yang kokoh ilmunya, maka ada kalanya perlu menanyakan kepada ulama yang lain mengenai benar atau tidaknya perkara tersebut
  3. Ketergelincirannya jangan diikuti
  4. Mencari-cari udzur yang barangkali itu karena pemahamannya yang masih diperbolehkan
  5. Menasehati dengan cara lemah lembut dan sirr (tidak terang-terangan)
  6. Menjaga kedudukan mulia ulama tersebut, jangan dihilangkan kemuliaannya dihati-hati kaum muslimin
  7. Penghinaan kepada ulama yang seolah-olah seperti pengagungan
  8. Berdesak-desakan kepada ulama
  9. Membuat jalannya menjadi sempit
  10. Mempepetinya pada jalan yang sulit (ex. harus lewat jalan belakang)

Mengembalikan segala Isykal (kerumitan masalah) kepada ulama

“Jangan engkau selesaikan sendiri, sedangkan engkau tidak mampu melakukannya sendiri.” Karena dikhawatirkan akan berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Sehingga, ketika mendapati suatu masalah, sebaiknya urusan dikembalikan kepada ulama. Hal ini dikarenakan ulama itu berbicara berdasarkan landasan ilmu dan dengan sabar memberikan solusi kesabaran.

“Apabila beliau menanggapi masalah, dibangun atasnya ilmu. Dan jika beliau mendiamkannya, maka kalian jangan banyak bicara tentang masalah itu.”

Jika masih juga rancu (tidak jelas), maka sikap kita adalah berhusnudzon kepadanya. Apabila didapati adanya perselisihan diantara para ulama, maka pilihlah jawaban mayoritas dari mereka, supaya mendapatkan keselamatan.

Menghormati majelis ilmu dan sangat memuliakan tempat ilmu itu disimpan, yaitu bukunya
“Majelis ulama itu seperti majelis para nabi.”

Sahal bin abdillah berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat majelisnya para nabi, maka lihatlah majelisnya para ulama.”
Setip majelis itu punya hak. Maka ketika ia duduk harus penuh dengan adab, benar-benar memperhatikan gurunya (fokus menghadap guru) kecuali keadaan darurat. Selain itu, perlu bagi penuntut ilmu untuk memuliakan tempat bersemayamnya ilmu (buku), salah satunya dengan mencatat ilmu dan menjaga bukunya (buku rujukan maupun buku catatan). Maka buku perlu dijaga & diagungkan, diperhatikan, dan jangan jadikan sebagai barang yang disimpan di laci saja.

Membela ilmu, dan betul-betul menjaganya
Sesungguhnya ilmu itu memiliki kehormatan yang banyak. Maka ilmu wajib dibela jika datang berbagai macam serangan untuk meruntuhkan ilmu tersebut.
Maka apabila terdapat perselisihan dalam syariat, maka wajib bagi seorang penuntut ilmu untuk membantah kepada siapapun yang melakukannya (peruntuhan ilmu). Ini dilakukan dalam rangka menjaga agama dan sebagai bentuk nasehat kepada kaum muslimin.

Menjaga cara (adab) ketika bertanya kepada ulama.
Dalam rangka memuliakan ilmu, maka ketika bertanya jangan digunakan untuk membuat kerusuhan, ingin mendatangkan fitnah, atau mendatangkan kejelekan pada majelis tersebut. Diantara adab ketika bertanya adalah :
Berpikir dulu ketika hendak bertanya, menguatkan alasan mengapa ia bertanya (terutama pada materi yang ditanyakan), dan niatnya harus baik
Memahamkan tentang pertanyaan yang ia buat
Perhatikan tentang keadaan ulama tersebut ketika ditanya
Hendaklah ia memperhatikan cara bertanya
Bertanya dengan suara yang bagus, memulai dengan pujian dan doa kepada ulama, serta tidak bertanya seperti ketika orang di pasar. Tidak seperti ketika bergaul dengan orang-orang awam.

Hendaklah hati itu merasa senang dengan ilmu dan betul-betul ia ingin menguasai ilmu
Diantara tanda orang yang jujur dalam mencari ilmu adalah benar-benar mencintai apa yang ia cari dan hatinya benar-benar ingin mendapatkan ilmu tersebut. Tidaklah ia berhasil mendapatkan derajat ilmu sampai ia merasakan lezatnya ilmu.
Ibnul Qayyim berkata, lezatnya ilmu baru akan bisa dirasakan apabila :
Mencurahkan usaha dan tenaga untuk meraih ilmu
Jujur dalam mencarinya
Benarnya niat dan ikhlas ketika mencari ilmu

Menjaga waktu dalam belajar
Memperhatikan sangat pentingnya ilmunya. Jangan sampai ada waktu tidak digunakan untuk ibadah. Ia dahulukan yang lebih utama satu dari yang lainnya.
Diantara tanda ulama yang perhatian terhadap waktu, adalah :
Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktu-ku satu saja dalam umurku untuk hal yang sia-sia atau main-main.
Aku tidak pernah membiarkan diriku membiarkan waktu, satu waktu pun dalam hidupku.
Waktu itu begitu berharga
Yang engkau begitu sulit menjaganya
Dan aku melihat, yang paling mudah bagimu adalah engaku itu terus menyia-nyiakan waktu

Oleh : Taufik Indrawan

Diambil dari: Khulashoh Ta’dzimul Ilmi
Karya : Syeikh Sholih ibn Muhammad al Utsaimi
Disampaikan oleh : Ust. M. Abduh Tuasikal, S.T. M.T.

Peran Advokasi LDFK

Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran, atau sering kita singkat sebagai LDFK, adalah organisasi yang memilki profil yang khas. Common interest yang berwujud kecintaan kepada Islam, tentunya menjadikan LDFK memiliki nilai tawar yang berbeda dengan organisasi intra kampus lainnya. Sebagai wadah yang menampung muda-mudi Islami, tentu banyak kebaikan yang bisa diledakkan melalui LDFK. Tak sama jika dibanding yang berjalan dan bekerja sendiri, meski sama-sama menebar kebaikan, adanya wadah, sahabat, konsep kerja berorganisasi, tentu menjadi potensi yang bisa dioptimalkan menjadi kekuatan perubahan atau bahkan kekuatan pembaharuan yang dahsyat.

Kepentingan LDFK dalam menebar kebaikan, hendaknya terpusat pada perannya di civitas akademika, civitas hospitalia, masyarakat, dan kepentingan umat Islam. Dalam masing-masing keempat sektor itu, tentu diperlukan seni yang berbeda dalam mengemas program kerja yang ditawarkan. LDFK bisa berperan dalam menciptakan lingkungan yang tak awam dari Islam, yang hidup dengan budaya Islam, dan menciptakan lingkungan yang lepas dari misperception terhadap “Apa itu Islam?”. Tiga peran itu adalah capaian minimal yang harus selalu diupayakan.

Tak bisa dipungkiri, setiap komunikasi akan menghasilkan dua produk: harmoni atau konflik. Dalam bahasan kali ini, penulis ingin mengangkat peran Advokasi di dalam LDFK sebagai pemeran utama di dalam manajemen konflik yang dihadapi LDFK. Sebelumnya, mari kita sepakati adanya pernyataan, “Ekspansi akan memunculkan kawan ataupun lawan.”

Sebagai agen perubahan dan pembaharu, mempertahankan harmoni yang sejalan dengan tujuan dakwah Islam adalah tugas penting, di sisi lain mengatur strategi manajemen konflik adalah hal penting yang tak boleh ditiadakan. Peran Advokasi di dalam LDFK harus mengambil peran kedua diatas. Memperkirakan konflik yang mungkin terjadi, mempersiapkan strategi pemecahan, membentuk aliansi, menciptakan kompetensi dan wewenang, beraksi, dan melakukan pengawasan. Terlihat rumit, namun bagaimanapun dengan adanya peran Advokasi di dalam LDFK, in sya Allah akan membuka jalan yang dampaknya terkadang bisa dirasakan dalam waktu yang tak singkat.

Selain itu peran Advokasi yang tak kalah penting adalah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan daya tawar LDFK. Menunjukkan citra yang baik. Dan yang paling penting, menciptakan kepercayaan publik.

Kepercayaan publik akan membawa LDFK untuk bisa mengambil peran sebagai referensi dalam menyikapi public issue. Hal ini akan memudahkan LDFK dalam menciptakan lingkungan opini publik yang bersih. Memang hal ini merupakan upaya manajemen dan manipulasi opini publik yang terdengar negatif atau konspiratif, tapi jika kita menawarkan kebaikan, mengapa harus ragu?

Ini adalah gambaran ideal yang hanya sekilas saja mengenai bagaimana peran Advokasi LDFK akan memberi dampak terhadap manuver LDFK itu sendiri. Meski belum banyak LDFK yang memiliki bagian khusus yang menengarai masalah Advokasi, tak ada kata terlambat dalam dan untuk berbuat baik, kan? Penulis pribadi merasa perlu (dan merekomendasikan) diadakannya tim Advokasi di dalam tiap-tiap LDFK. Salam ukhuwah.

ditulis oleh
Muhammad Haydar
Ketua Umum FULDFK 2014.

Islam dan Profesionalitas

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” QS Al baqarah, ayat 267.

Islam adalah agama yang kaffah. Ajarannya yang menyeluruh memberi nilai kedalam kehidupan manusia mulai dari lahir hingga lahat, mulai dari terbitnya matahari hingga terbenamnya bintang dan terbitnya matahari lagi. Selama manusia tetaplah manusia, selama itulah aturan yang terkandung di dalam ajaran Islam akan tetap membawa kebaikan serta keteraturan bagi kehidupan umat manusia.

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” QS Al Baqarah, ayat 138.

Sebagaimana ayat diatas menjelaskan bahwa Islam diibaratkan sebagai shibghah yang berarti celupan. Allah memberi permisalan bahwa manusia yang berserah (taslim) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ibarat telah mencelupkan dirinya ke dalam celupan yang paling baik. Sehingga tak tersisa sedikitpun ruang yang tak tersentuh oleh celupan itu. Dan telah menjadi kehendak Allah agar orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala masuk kedalam celupan itu tak tanggung-tanggung dan menyeluruh, atau di dalam QS Al Baqarah ayat 208 disebutkan sebagai “masuk secara kaffah”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (secara kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” QS Al Baqarah, ayat 208.

Jelaslah bahwa Islam tak hanya sekedar mengatur hubungan kita dengan Rabb semata. Namun juga mengatur secara menyeluruh, termasuk hubungan kita dengan manusia lainnya pula.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” QS Al Baqarah, ayat 177.

Demikianlah pengantar yang memahamkan kita betapa Islam mewarnai kehidupan dengan nilai-nilainya. Menjadikan manusia sebagai ciptaan yang hidup sebagaimana aturan yang sesuai dengan kehendak Allah, Rabb semesta alam.

Di dalam konteks artikel ini, penulis ingin menyampaikan sebagaimana di sangat awal tadi telah disuratkan kutipan QS Al Baqarah ayat 267. Meski tak tertulis secara jelas, namun jika kita tadabburi, akan jelaslah bagaimana Islam mengatur sikap ideal seorang muslim dalam beramal shalih.

Ayat Al Baqarah 267 menyatakan dengan sangat tegas, di dalam kita beramal shalih, kita tidak seyogyanya mempersembahkan amalan yang buruk, baik dari segi niat, pelaksanaan, maupun keikhlasannya. Bukanlah hal yang terpuji bagi seorang muslim untuk mempersembahkan amalan yang tak disiapkan dengan baik. Yang mana di dalam ayat diatas dijelaskan mengenai larangan untuk menginfaqkan harta yang buruk-buruk.

“… Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” QS Al baqarah, ayat 267.

Implementasi ayat ini kepada amal shalih yang lain, tentu sama. Hendaknya orang-orang yang beriman mempersembahkan amalnya dengan baik. Dalam artian yaitu dengan mempersiapkan sebaik mungkin, termasuk diantaranya persiapan waktu, tempat, dana, tenaga, bahkan rekan, dan juga termasuk syarat-syarat khusus dari suatu amal, sehingga dengan persiapan itu, dibubuhi dengan keikhlasan, khauf, raja’, maka ia akan bersemai menjadi apa yang Islam sebut sebagai amal shalih. Yang berlandaskan i’tiba’ Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam, dan diiringi dengan ikhlash liLlah.

Ibarat memperoleh sesuatu, tentu kita sendiri menginginkan yang kita peroleh adalah apa-apa yang baik. Lantas bagaimana kita tega mempersembahkan amal yang tak kita persiapkan dengan yang terbaik, kepada Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji?

Wallahu A’lam bish Shawab.

FULDFK 2014

Wanita Shalihah

Barang Langka itu Bernama “Wanita Shalihah”

    “Semakin tinggi pohon menjulang semakin kencang angin menghempas”. Tidak dipungkiri bahwa semakin tinggi cita-cita penduduk bumi maka semakin banyak rintangan yang akan ia hadapi. Saudariku, apa cita-cita yang paling ingin kau capai beberapa saat lalu, saat ini, bahkan hingga akhir hayat-mu? Masing-masing pasti memiliki jawaban yang berbeda. Bukanlah suatu hal terlarang bagi kaum perempuan pada era demokrasi yang menjunjung tinggi kesetaraan gender dan hak asasi untuk bercita-cita mengenyam pendidikan tinggi bahkan bercita menjadi presiden sekalipun. Lalu, apakah Islam melarang segala hal yang di halalkan pada era ini? Tengoklah bagaimana Islam telah mengaturnya dalam dua kunci kehidupan, Al-Qur’an dan Al-Hadits. Betapa bodohnya jika berkata “wanita muslim sungguh terkungkung dengan hijabnya”, na’udzubillah. Sesungguhnya, Islam-lah yang mengantarkan wanita menjadi makhluk yang “diakui”, maka sepatutnya cita-cita tertinggi seorang mukminah ialah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Islam, melalui sabda Rasul-Nya:

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

Namun, tidaklah mudah. Sesuatu itu dikatakan berharga karena ia langka, dan sesuatu itu menjadi langka karena ia sulit untuk digapai. Menggapai cita menjadi sebaik-baik perhiasan dunia tentulah sangat sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Hanya wanita yang mengerti betapa berharganya ia yang akan terus berjuang menjadi barang langka yang bernama                   “wanita shalihah”.

    Wanita shalihah itu ialah sebagaimana yang tercatat dalam kitabNya,

“………sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka” (Q.S An Nisa’:34).

    Wanita yang memiliki agama ialah wanita yang senantiasa memiliki ketakwaan. Ia senantiasa menjaga apa yang telah Allah wajibkan kepadanya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya, wanita itu lebih mudah terpengaruh dan berpindah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, maka tetaplah memohon kepada Allah keteguhan di jalan-Nya dan pilihlah teman yang tepat. Sesungguhnya, teman itu memiliki pengaruh terhadap teman dekatnya, sebagaimana di dalam Ash-Shahihain, dari Abu Musa ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Maka pembawa minyak wangi itu mungkin ia akan memberimu dan mungkin engkau akan membeli darinya, sedang pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu dan mungkin juga kamu akan mendapatkan bau busuk darinya”. Sesungguhnya, seorang wanita yang memiliki agama akan disenangi oleh orang yang memiliki agama pula, dan sebaliknya.

    Wanita memiliki rahim yang merupakan alam kedua yang dilalui seorang anak adam sebelum mencapai alam dunia. Wanita ditakdirkan untuk mengandung, menyusui, serta berpeluh melayani suami dan mendidik anak-anaknya. Di situlah kemuliaan yang harus diperjuangkan oleh seorang “wanita shalihah”. Bibit yang ditanam pada tanah yang baik akan tumbuh, namun hanya seadanya lalu mati sebelum sempat menebar manfaat. Adapun bibit yang di tanam pada tanah yang baik lagi disiram dan diberi pupuk akan terus bertumbuh hingga suatu saat berbuah lebat dan memberi keteduhan bagi musafir yang melewatinya, dialah jundi-jundi yang terlahir dari rahim wanita shalihah.

Dalam mukaddimah buku beliau yang berjudul “Ibunda para Ulama”, Al-Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan menceritakan isi ceramah yang disampaikan guru beliau Syaikh DR. Muhammad al-‘Areefy yang berjudul “ Mas-uuliyyatur Rajuli fi Usratihi”, menegaskan bahwa terkadang ibu berperan lebih dalam mendidik anak daripada bapak. Syaikh lalu mengisahkan tentang salah seorang sahabatnya yang suatu ketika bepergian naik mobil bersama temannya di Jeddah. Dalam mobil tersebut teman dari sahabat syaikh mengajak dua orang anaknya yang berumur sekitar empat dan lima tahun. Sahabat sang syaikh merasa bahwa ayah dari kedua anak tersebut bukan tipe laki-laki yang sangat taat beragama, namun ketika mobil hendak naik ke jalan layang, serempak anak-anaknya bertakbir.

    Rupanya anak-anak itu paham bahwa Rasulullah SAW dalam safarnya bila menapaki jalan menanjak beliau bertakbir, dan bila menuruni lembah beliau bertasbih. Sahabat syaikh terheran-heran karena memang dia merasa ayah anak-anak tersebut bukanlah laki-laki yang sangat taat beragama. Rasa penasaran terus mengusik, lalu sahabat syaikh bertanya pada temannya, kita sebut saja si fulan “Fulan, mashaallah, engkau bukanlah santri dan bukan juga seorang aktivis, tapi anak-anakmu mampu menerapkan sunnah sedemikian rupa, apa rahasianya?”. “Ya akhi, ini bukan hasil didikanku, tapi hasil didikan ibu mereka”, jawab si fulan. “Istriku memang mashaallah! Semoga Allah membalas kebaikannya. Dia betul-betul ibu teladan. Dialah yang mengajari anak-anak do’a sebelum tidur, do’a bangun tidur, do’a sebelum dan setelah makan, do’a masuk dan keluar WC, do’a ini dan itu, bahkan dia memiliki cara unik dalam mendidik anak kami,” lanjut si fulan.

    “Bagaimana caranya?,” tanya sahabat syaikh.
“Kalau sekali waktu anak-anak bertengkar di rumah, lalu salah satu dari mereka berkata kasar kepada saudaranya, maka istriku memanggilnya dan melakukan dialog yang penuh dengan nilai tarbiyyah” jawab si fulan. Selanjutnya, si fulan menceritakan dengan mata berkaca-kaca bagaimana dialog antara istri dan anak-anaknya:
“Hai nak, sini sebentar” ucap istriku.
“ Apa ma? mama hendak memukulku ya?”, tanya anakku.
“ Tidak, mama cuma mau Tanya, siapa yang lebih kau sayangi, Allah ataukah syaitan?” kata istriku.
“Tentu aku lebih sayang Allah” jawab anakku polos.
“ Tapi kamu sedang jadi temannya syaitan sekarang”, kata ibunya.
“ Lho kenapa ma?”, tanya anakku.
“ Karena kamu berkata kasar tadi. Kalau kamu berkata kasar kamu jadi temannya syaitan. Tuh, syaitannya sekarang duduk di atas punggungmu, dan ia tertawa lebar mendengar ucapanmu tadi”, kata ibunya.
“ Terus ma, bagaimana supaya syaitan menangis? aku tak mau jadi temannya syaitan, aku mau jadi temannya Allah (maklum anak kecil),” kata anakku.
“Gampang. Kamu sekarang menghadap kiblat, lalu ucapkan astagfirullah seratus kali, hayo coba lakukan”, kata ibunya.
“ Jadi kalau aku melakukannya syaitan akan nangis ya ma?” kata anakku.
“ Iya, kalau kamu melakukannya syaitan pasti nangis”, jawab ibunya.
“Kalau begitu aku mau istigfar sekarang, astagfirullah… astagfirullah… astagfirullah…, udah belum ma?
“ Belum, masih lima puluh lagi”, kata ibunya.
” astagfirullah… astagfirullah… astagfirullah…, udah belum?” tanya anakku.
“ Belum, tiga belas kali lagi”, kata ibunya.
“Astagfirullah… astagfirullah… astagfirullah…, udah?” tanyanya lagi.
“ Ya, sudah…” kata ibunya.
“ Sekarang syaitan lagi nangis ya ma?” kata anakku.
“Iya, sekarang dia lagi nangis”, kata ibunya.
“ Kalau begitu aku mau istigfar lagi, supaya nangisnya lebih lama”, kata anakku sembari menambah istigfar-nya.

    Tentunya, jika anak-anak dibesarkan dengan cara seperti ini, diajarkan bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan pribadinya, bahkan bagaimana memenangkan Allah di atas bisikan syaitan maka biidznillah  setelah dewasa akan menjadi anak-anak yang shalih. Tidaklah berlebihan jika Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia karena ia akan mempengaruhi berbagai segi kehidupan yang dengannya akan menjadi bernilai di mata Allah.

Sumber:
Al-Wadi’iyah, Ummu Abdillah. Nasehatiy lin-nisaa’. Kairo: Daar Al-Haromain.
Al-Wadi’iyah, Ummu Abdillah, 2010. Untukmu muslimah ku persembahkan nasehatku. Sanggrahan: Maktabah Al-Ghuroba’.
Baswedan, Sufyan, 2013. Ibunda para ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah.

Ditulis oleh:
Siti Ulfatun Najiyyah
SKI Asy-Syifa’ Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
Kamis, 20 Februari 2014.

Kartini, Dulu dan Kini

Surat kartini kepada prof. Anton dan nyonya, 4 okt 1902: “kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan untuk anak perempuan. Bukan sekali kali karena kami menginginkan anak perempuan menjadi saingan laki laki,  tapi karena kami yakin pengaruhnya yang sangat besar sekali terhadap kaum wanita. Agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya. Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Perayaan kartini, seharusnya, tidak semata seremoni mengenakan kebaya dan bersanggul sambil menghamburkan uang. Tetapi kembali menghayati keinginan kartini untuk perempuan indonesia yang lebih cerdas dan mandiri dalam kehidupannya, namun tetap tanpa melupakan kodratnya. Menjadi kartini berarti menjadi wanita yang peka terhadap keluarga dan lingkungannya. Tidak hanya mengeluh namun menjadi bagian dari solusi. Menjadi kartini berarti menjadi wanita indonesia yang berdaya juang tinggi dan selalu berkeinginan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh perempuan-perempuannya. Jika cerdas perempuannya, maka majulah bangsa itu. Jika bobrok perempuannya, maka hancurlah negara itu.

Kartini, Dewi sartika, Cut nyak dien dan pahlawan pahlawan wanita Indonesia saat ini pun tetap harus berjuang memerdekakan dirinya dengan caranya sendiri. Karena hanya diri sendiri (dan dengan seizin Allah) yang dapat membantu, tanpa perlu bergantung pada manusia lain.

Surat kartini kepada Ny. Abandon, 1 Aug 1903, ”Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah (abdullah)”

Surat kartini kepada Ny. Ovink, okt 1900, “Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia sebenar benarnya bebas”

 

Minadzhdzhulumati ilaan nuur-Door Duiternis tot Licht-Dari Gelap Menuju Terang

 

Irma Kamelia, dr.
P&K DEP 2008/2009
Dosen FK Unpad

WHD 2014

WELCOME WHD…

WORLD HIJAB DAY, Februari 1st 2014…….

 

Mungkin sedikit asing ya di telinga kita,

Yuk mari di baca guys..

Apasih WHD itu?

WHD is World Hijab Day yaitu hari hijab sedunia yang ditetapkan pada tanggal 1 Februari. Nah, pada hari ini dihimbau bagi semua wanita muslim di seluruh antero jagat raya untuk berhijab, baik yang memang sudah berhijab maupun yang belum, walaupun hanya sehari saja (jika memang belum bisa berhari-hari). Selain itu dipersilahkan juga bagi nonis (non islam) yang ingin merasakan berhijab di hari ini atau pun ingin mencari informasi mengenai hijab.

Dan pada akhirnya diharapkan seluruh muslimah di seluruh dunia mengenakan jilbab yang memang sudah menjadi kewajiban bagi wanita muslim.

“Hai nabi, katakan kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, hingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”(QS.Al Ahzab:59).

Gimana ceritanya bisa muncul WHD itu…?

Begini guys, WHD itu muncul dari seorang wanita tangguh yang berada di Amerika sana, ya.. dialah Nazma Khan, wanita keturunan Bangladesh yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat.

Beliaulah yang menggagas diadakan WHD ini berdasarkan pengalaman pahit yang beliau alami jadi ceritanya begini pada usianya yang 11 tahun Nazma Khan pindah ke Amerika dan menjadi satu-satunya siswi berkerudung di sekolah menengahnya. Sejak saat itulah beliau mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari temannya maupun dari gurunya sendiri. Pernah suatu ketika hijab beliau ditarik padahal ada 10-15 laki-laki diruangan itu. Dan perlakuan tidak baik tersebut terjadi hingga beliau lulus, perlu diketahui bahwa beliau lulus dengan nilai terbaik di kelasnya.

Kata beliau begini “Di Bronx saya mengalami banyak diskriminasi karena mengenakan hijab. Saat di sekolah menengah saya dijuluki ‘Batman’ atau ‘Ninja’ dan terbawa sampai saya masuk universitas apalagi setelah tragedi 11 September. Saya dipanggil Osama bin Laden atau teroris. Itu mengerikan. Saya pikir satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi adalah jika mereka merasakan sendiri untuk berhijab,”

Pada bulan oktober 2010, beliau membuka toko hijab untuk memfasilitasi muslimah menggunakan hijab. Sejak saat itu, banyak muslimah dari beberapa negara mengirim email dan menceritakan perjuangan mereka menggunakan hijab. Lalu beliau berpikir untuk mengajak muslim maupun non muslim menggunakan hijab agar mereka merasakan bagaimana menggunakan hijab. Pada akhirnya beliau merancang sebuah gerakan bernama World Hijab Day pada tanggal 1 Februari. Awalnya ini merupakan gerakan petisi atau himbauan agar para muslimah menggenakan jilbabnya pada hari itu. Petisi tersebut di publish dan diterjemahkan kedalam 23 bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Lalu dukungan terus bertambah hingga literatur World Hijab Day telah diterjemahkan dalam 40 bahasa. Dan Ada lebih dari 50 negara merayakan hari hijab sedunia ini serta 21 negara ditunjuk sebagi duta. Bahkan Miss Universe 2013 Carol Lee, politisi Dr Amina Nama di Sambo, Mufti Ismail Menk, Dr.Yasir Qadhi, Sheikh Omar Suleiman secara terang-terangan mendukung gerakan ini.

Terus tujuan dan manfaat WHD apa aja ya..?

Hehe… Seperti karya tulis ilmiah ada tujuan dan manfaat, okeyokey begini Ibu Nazma Khan berharap dengan adanya World Hijab Day dapat merajut solidaritas para wanita muslim di dunia ini untuk tetap teguh menjalankan perintah Allah yaitu dengan mengenakan hijab meskipun harus menghadapi berbagai tantangan, diskriminasi atau pun penolakan. Dan bagi yang belum berhijab semoga bisa menyentuh hati dan menguatkan niatnya untuk berhijab.

Selain itu, World Hijab Day juga dimaksudkan untuk mengubah paradigma pemahaman yang buruk tentang berhijab.

Dan juga memberikan dukungan moral serta kekuatan, khususnya bagi muslimah minoritas yang masih mendapatkan penolakan dan diskriminasi dari lingkungannya.

Apa kata mereka tentangWHD?

©   World Hijab Day is NOT Bidah (innovation), by Mufti Menk

©   My name is Allie and I live in a rural university town in Illinois in the United States. I’m a head-covering Christian, but I’m the Director of Christian Education for a church where no one covers. I’ll be participating in World Hijab Day and inviting my church to participate in it too.

©   As president of Equality Quebec here in Montreal, Quebec, Canada, I am proud to be partaking in this event. In Quebec Islam is currently under fire, and having this event in our part of the world holds a special significance. Thank you Sister Nazma for providing us with this opportunity to show solidarity and raise awareness. May Allah be with you always, inshaAllah.”-Salman ShabadSaini

©   “I was born a muslimah, raised in a christian community , studied in a catholic university in Davao City,Philippines, it is difficult to wear my hijab because most of my classmates/friends are non-muslims chances they bullied me as if i’m a terrorist but it didn’t stop me from wearing my hijab….and because of that it gives mo more courage to continue and will do it through the rest of my life…. i love my hijab just like i love Allah and the Prophet Muhammad (pbuh).” -TadjmahalHasan (Philippines)

©   We are the students of Sylhet M.A.G Osmani Medical College,Bangladesh..we love our hijab & are proud of it.We don’t feel it as an oppression,but it is our freedom..most of the girls in our class wear hijab & i think they all look like princesses. I believe World Hijab Day will be a very good platform for our sisters who want to start wearing hijab.May All mighty Allah bless us all with his grace.”-”Mahmuda A Mukta

 

Tunggu apalagi, Lets go girls..

Di negeri tercinta kita ini berhijab sudah bukan hal yang aneh ya, bayangkan jaman dulu masih dilarang- larang. Alhamdulillah, atas bantuan Allah dan perjuangan akhwat- akhwat terdahulu hijab sekarang sudah tidak dilarang lagi, kita doakan saudari-saudari kita yang di luar negeri sana *yang masih dilarang berhijab, semoga Allah kuatkan perjuangan mereka J

 

#YukBerhijabWarnaiDunia J

By:       Kemuslimahan FULDFK’14, Siap mewarnai dunia

Pemilu 2014?

Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia menjelaskan bahwa memilih merupakan hak warga negara untuk menyalurkan pilihannya dalam pemilu. Namun pada hakikatnya memilih bukan hanya sekadar hak, tetapi bisa menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan oleh warga negara demi terciptanya suatu pemerintahan. Meskipun demikian, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum tahun 2013, masyarakat cenderung untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu tahun 2014. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan sikap menyia-nyiakan hak tersebut akan menghasilkan suatu keburukan atau kebaikan?
______________________________________________________________________

     Pada tanggal 9 April 2014 mendatang, bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pesta rakyat terbesar untuk memilih wakil legislatif disusul dengan pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2014-2019. Setiap warga negara Republik Indonesia yang memiliki hak suara (berumur 17 tahun atau sudah/pernah kawin) dapat menggunakan hak suaranya dalam pemilu 2014. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah:

“Pemilihan Umum yang selanjutnya disingkat Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”

     Dalam peraturan perundang-undangan, penyaluran suara melalui pemilihan umum adalah hak warga negara. Negara dalam hal ini tidak memaksa warga negara untuk menyalurkan hak pilihnya. Sampai saat ini Indonesia telah menyelenggarakan 10 kali Pemilu secara reguler, yaitu tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, dan 2009 (Soebagio, 2008; Aryanto, 2011). Dunia internasional memuji Pemilu tahun 1999 sebagai pemilu pertama di era reformasi dengan tingkat partisipasi politik 92,7%. Namun, jika dilihat dari aspek partisipasi politik dalam pemilu di Indonesia, Pemilu tahun 1999 merupakan awal dari penurunan tingkat partisipasi politik pemilih atau mulai meningkatnya golongan putih (golput). Golongan putih adalah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan berbagai faktor dan alasan. Golput dipandang sebagai sikap politik rakyat yang tidak percaya lagi kepada pemerintah (Haris, 2004). Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum tahun 2013, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu menurun hingga 20% dalam kurun waktu 10 tahun (1999-2009). Jika penurunan terjadi secara linier, diperkirakan partisipasi masyarakat hanya mencapai sekitar 60% pada 2014 dan kurang dari 50% pada 2019 (Tulung, 2013). Beragam alasan dikemukakan untuk memilih menjadi Golput mulai dari sibuk, tidak ada calon yang dikenal, menganggap semua partai sama saja, sampai menganggap janji-janji yang disampaikan saat kampanye hanya sekedar janji tanpa realisasi. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, sebagai seorang muslim bagaimana kita menyikapi pemilu ini?
Pada forum ijtima’ ulama yang dilaksanakan tanggal 24-26 Januari 2009 di Padang Panjang, Sumatera Barat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang golput. Adapun fatwa tersebut adalah:

  1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
  2. Pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah* dan imarah** dalam kehidupan bersama.
  3. Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemashlahatan dalam masyarakat.
  4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.
  5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

     Dasar penetapan fatwa MUI tersebut adalah firman Allah SWT: “Orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya,” (An-Nisa: 59). Selain itu dalam Surat An-Nisa’ ayat 144, Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?“

     Pada ayat yang mulia di atas, Allah SWT melarang umat muslim untuk mengambil pemimpin selain orang-orang yang beriman, sehingga kepemimpinan beralih kepada orang-orang kafir. Allah SWT bahkan mengancam akan mendatangkan siksaan bagi orang-orang yang melalukannya. Ayat-ayat semisal ini bisa dilihat dalam surat An-Nisa’ ayat 138-139: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” Pada ayat tersebut. Allah SWT menjelaskan termasuk salah satu ciri orang munafik adalah mereka mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin

     Pada surat Al-Ma’idah ayat 51 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Dan pada Surat Al-Ma’idah ayat 57: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. “

    Pada ayat yang mulia di atas Allah melarang orang-orang yang beriman mengambil pemimpin dari kalangan orang-orang Yahudi, Nasrani dan juga orang-orang kafir secara keseluruhan (baik kafir ahli kitab ataupun kafir musyrik). Sehingga semakin jelas tentang wajibnya bagi kaum muslimin untuk memilih pemimpin/wakil yang juga seorang muslim untuk kemudian memperjuangkan Islam dalam konteks kenegaraan.

     Bagaimana jika ada yang bertanya bukankah Pemilu ini merupakan bagian dari demokrasi dan demokrasi itu bukanlah produk Islam? Untuk menjawab hal ini terlebih dahulu kita perlu menilik sejarah Islam. Rasulullah SAW tidak pernah menjelaskan secara tegas bagaimana sistem negara Islam itu, demikian juga para khulafaur rasyidin. Hal yang serupa juga kita temui tentang mekanisme perpindahan kekuasaan dari Rasulullah SAW kepada Abu Bakar ditentukan dengan musyawarah di Sakifah Bani Sa’idah. Kemudian berpindah kepada Umar bin Khatab yang ditentukan dari wasiat Abu Bakar, lalu berpindah ke Utsman bin Affan yang ditentukan berdasarkan kesepatakan panitia khusus yang beranggotakan 6 sahabat pilihan Umar bin Khatab. Lalu berpindah ke Ali bin Abi Thalib dengan mekanisme untuk mengisi kekosongan kekuasaan setelah Ustman bin Affan wafat, sampai berpindah kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, mekanisme perpindahan kekuasannya didapat dengan peristiwa penyerahan kekhalifahan oleh Hasan bin Ali dalam peristiwa Am Jama’ah (Usairi, 2003).

     Dari tilikan sejarah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa Islam tidak mengatur secara tegas tentang sistem negara dan juga sistem perpindahan kekuasaan, namun Islam memberi nilai dalam sistemnya. Sehingga, walaupun sistem pemerintahannya adalah Kerajaan Absolut, Republik Demokrasi, Kesultanan Konstitusional, Ke-Emiran ataupun Negara Federasi, jika dalam sistemnya telah dijalankan nilai Islam maka ia adalah Negara Islam. Perlu diingat bahwa demokrasi yang ada di negara kita berbeda dengan demokrasi yang ada di negara-negara barat yaitu dengan tetap memasukkan nilai-nilai agama dalam sistem demokrasinya. Hal ini tercermin dalam sila pertama Pancasila yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, kemudian juga tercermin dalam UUD 1945 Bab XI tentang Agama, Pasal 29 menyatakan: (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu”. Hal ini jelas menunjukkan perbedaan sistem demokrasi di negara kita dan di negara-negara sekuler. Selain itu, negara kita juga turut mengurusi urusan agama dengan dibentuknya Kementerian Agama, dimana pada saat lembaga ini dibentuk (yang pada saat itu bernama Departemen Agama), Indonesia adalah negara pertama yang memiliki departemen/kementerian yang khusus mengurusi urusan agama warga negaranya.

     Lalu dengan sistem pemilu ini, apakah sesuai dengan ketentuan Islam? Untuk menjawab hal ini kita perlu menganalisis lebih dalam. Dalam pemilu ada nilai-nilai Islam yang bekerja disana, yaitu tentang pemilihan perwakilan/ahlul hal wal aqdi, perwakilan ini bisa menyalurkan suara dan aspirasi kaum muslim. Namun juga harus diakui bahwa dalam pemilu, ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan nilai Islam seperti tidak mengikuti suara terbanyak, serta menyamakan suara ulama dengan suara orang biasa.
Walaupun demikian, sebagaimana kaidah Ma la yudrakul kullu, fa la yudrakul kullu, apa-apa yang tidak bisa diambil seluruhnya janganlah ditinggal keseluruhan, maka kita tahu bahwa dengan adanya perwakilan kaum muslimin di dewan perwakilan, mereka bisa memasukkan nilai-nilai Islam dalam konteks negara, contoh konkretnya adalah Undang-undang Perkawinan, Undang-undang Pendidikan (yang menjelaskan semua siswa berhak mendapat pelajaran agama sesuai dengan agama siswa tersebut dan diajar oleh guru yang seagama dengan siswa tersebut), Undang-Undang Anti Penistaan Agama, Undang-undang Perbankan Syariah, dst. Berbagai macam Undang-Undang di atas tidak mungkin bisa tercapai kecuali dengan dua hal yaitu, adanya wakil kaum muslimin di dewan perwakilan dan wakil kaum muslimin tersebut mau memperjuangkan Islam di sana.

     Sekarang, kita sudah semakin memahami bahwa penting bagi kaum muslimin untuk menempatkan wakilnya di dewan perwakilan dan juga tentunya dalam posisi eksekutif. Dalam konteks kenegaraan, memilih adalah hak, sedangkan dalam konteks Islam ini adalah kewajiban sebagaimana dijelaskan oleh MUI di atas. Lantas apa yang harus kita lakukan? Tugas kita saat ini adalah berikhtiar untuk menemukan calon wakil kita dari partai yang memperjuangkan Islam, dan harus kita ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Menjadi golput bukan lah pilihan. Lembaga legislatif dan eksekutif akan tetap terbentuk dan terpilih dengan atau tanpa partisipasi beberapa orang yang memilih menjadi golongan putih (golput). Jika ada kaum muslimin memilih menjadi golput tentu saja wakil yang terpilih tidak akan bisa sesuai dengan keinginan kaum muslimin.

     Dari adanya fatwa haram MUI yang dipaparkan diatas dan penjelasan singkat ini diharapkan partisipasi masyarakat dalam pemilu dapat meningkat sehingga pemerintah dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar karena adanya legitimasi masyarakat secara luas. Bersikap apatis dalam pesta demokrasi yang dilaksanakan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru menambah masalah dan beban bagi semua pihak khusunya pemerintah (Marjono, 2009).

“Jika engkau melarang orang Baik untuk maju menjadi pemimpin, lantas pemimpin seperti apa yang engkau harapkan? Dan jika orang Baik tidak mau memilih pemimpinnya maka pemimpin seperti apa yang akan terpilih?”

Ditulis oleh : Rizky Dwi Utami dan Tri Novita Wulan Sari
Editor : dr. Yasjudan Rastrama Putra, Rika Haeriyah, S.Ked
Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia.

*Imamah : kepemimpinan umat
**Imarah : kekuasaan

Daftar Pustaka

Arianto, Bismar. 2011. Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih Dalam Pemilu. Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan. Vol. 1, No. 1, 2011
Marjono, Riki. 2009. Hukum Golput Dalam Pemilu di Indonesia. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Soebagio. 2008. Implikasi Golongan Putih Dalam Perspektif Pembangunan Demokrasi Di Indonesia Pembangunan Demokrasi Di Indonesia. Makara, Sosial Humaniora. Vol. 12, No. 2, Desember 2008: 82-86
Tulung, Freddy H. 2013. “Peran Humas Pemerintah dalam Masyarakat Demokrasi”. Solo: Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Usairi ahmad. 2003. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana

  • Ramadhan 1435 H

    Ramadhan 1435 H

  • ADVOCLASSY

    ADVOCLASSY

  • Lomba FULDFK, “The Quran”

    Lomba FULDFK, “The Quran”

  • Sayap Dakwah

    Sayap Dakwah

  • Memuliakan Ilmu

    Memuliakan Ilmu

  • Peran Advokasi LDFK

    Peran Advokasi LDFK

  • Islam dan Profesionalitas

    Islam dan Profesionalitas

  • Wanita Shalihah

    Wanita Shalihah

  • Kartini, Dulu dan Kini

    Kartini, Dulu dan Kini

  • WHD 2014

    WHD 2014

  • Pemilu 2014?

    Pemilu 2014?

Download

Silahkan unduh file-file yang diupload di bagian ini.

1. RMDFK volume 1
2. RMDFK volume 2